Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Dari Papan Rp5 Ribu ke Puncak SEA Games: Kisah Basral Graito yang Mengubah Ejekan Jadi Emas

Alfida Nurcholisah • Jumat, 19 Desember 2025 | 17:59 WIB

 

Basral Graito menunjukkan skil bermain skateboard di jalan depan rumahnya. (Arief Budiman/Radar Solo)
Basral Graito menunjukkan skil bermain skateboard di jalan depan rumahnya. (Arief Budiman/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM - Tak banyak yang menyangka, papan skateboard seharga Rp5 ribu bisa menjadi awal perjalanan seorang atlet nasional.

Namun itulah yang dialami Basral Graito, skateboarder muda Indonesia yang kini namanya identik dengan prestasi di level Asia Tenggara.

Basral masih mengingat jelas masa kecilnya di Klipan, Tohudan, Colomadu.

Saat itu, ia hanya bocah yang bermain skate di depan rumah, meniru trik dari video YouTube, tanpa fasilitas dan perlengkapan memadai.

“Akhirnya aku minta ke bapak dibelikan papan yang proper. Pas ulang tahunku, bapak beliin papan bekas, tapi roda dan besi penyangganya baru,” kenang Basral.

Berlatih Bergantian, Jatuh-Bangun Sejak Kecil

Satu papan skateboard kala itu harus dipakai bergantian dengan sang abang. Menunggu giliran, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.

Sejak kecil, Basral memang tak asing dengan olahraga ekstrem. BMX dan skateboard menjadi bagian dari kesehariannya, hingga akhirnya ia bergabung dengan komunitas skateboard Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Belajar secara otodidak menjadi jalan utama Basral.

Sepulang sekolah, ia menghabiskan waktu menonton tutorial trik di YouTube, lalu mempraktikkannya siang hari. Sore harinya, ia kembali berlatih bersama komunitas.

“Kalau sore hujan, aku sedih. Papan kan nggak boleh kena hujan,” katanya sambil tersenyum kecil.

Sepatu Bolong dan Ejekan yang Menguatkan Mental

Perjuangan Basral tak selalu manis. Saat duduk di kelas 4 SD, sepatu Warrior hitam putih yang ia pakai sekolah bolong akibat dipakai skate setiap hari. Kaos kaki pun tak luput dari nasib serupa.

“Woi, sepatunya bolong,” begitu katanya menirukan ejekan teman-temannya.

Ia mengaku sempat perih, namun memilih santai.

“Sekarang aku bisa buktikan, sepatuku banyak di rumah, kalau mau ambil aja," ujarnya.

Ayah, Sosok di Balik Keteguhan Basral

Perjalanan Basral tak lepas dari peran sang ayah, Suranto (55), yang sehari-hari menjalani usaha kecil tangkar burung di belakang rumah.

Sejak awal, sang ayah melihat tekad besar dalam diri anaknya.

“Saya melihat Basral memang suka main skate dan punya tekad. Saya akan terus mendukung,” kata Suranto.

Demi latihan, Suranto rela membonceng Basral dan kakaknya ke Yogyakarta seminggu sekali.

Kala itu, skatepark terdekat hanya ada di Jogja. Mereka kerap pulang hingga larut malam, bahkan dini hari, dan Basral tetap berangkat sekolah keesokan harinya meski kelelahan.

Sekolah Ditinggal Demi Pelatnas SEA Games

Jalan Basral semakin terjal ketika jadwal latihan bertabrakan dengan pendidikan formal.

Ia sempat bersekolah di SMPN 1 Colomadu, namun hanya sampai kelas 2.

Kini, Basral menempuh pendidikan melalui Paket C.

Konflik besar terjadi saat Basral dipanggil mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) sembilan bulan di Bandung untuk SEA Games 2019 Filipina.

Pihak sekolah menolak, bahkan mengancam tidak menaikkan kelas.

“Waktu itu bapak yang maju. Saya bela anak saya,” ujar Suranto tegas.

Dari Medali Perak hingga Membangun Skatepark Sendiri

Kerja keras itu berbuah hasil. Basral berhasil meraih medali perak SEA Games Filipina.

Bonus yang diterimanya tak dihabiskan untuk barang mewah. Ia justru membangun skatepark sederhana sekitar satu kilometer dari rumah.

Perjalanan internasional pun pernah mengguncang mentalnya.

Saat mengikuti kompetisi Workskate di Dubai, Basral menyadari betapa jauhnya level atlet dunia.

“Aku sempat pesimis, ragu, nggak pede,” katanya jujur.

Sang ayah kembali menjadi penguat.

“Umurmumasih 16 tahun. Masih banyak waktu,” begitu nasihat yang terus ia pegang.

Mimpi Besar Basral Garito

Kini, Basral mengidolakan skateboarder Indonesia seperti Putu Yogi, Maryo Panandeng, Sanggu, dan Dewa Oka, serta atlet dunia Yuto Horigome dari Jepang.

Ia juga punya mimpi besar jika kelak meraih bonus besar dari prestasi.

“Kalau nanti benar-benar dapat 1 M, aku mau sumbangin ke anak yatim,” katanya.

Ia juga ingin membeli rumah untuk keluarganya. Selama ini, rumah yang mereka tempati hanyalah milik pakdenya.

Dari papan Rp5 ribu hingga panggung SEA Games, kisah Basral Garito menjadi bukti bahwa ketekunan, dukungan keluarga, dan keberanian memilih jalan sendiri mampu mengubah ejekan menjadi prestasi. (alf/lz)

Editor : Laila Zakiya
#Basral Graito Hutomo #kisah inspiratif #SEA Games 2025