SOLOBALAPAN.COM – Tagline "Arema FC Bagi yang Mampu" tengah ramai diperbincangkan di media sosial.
Frasa bernada satir ini mencuat pasca insiden pelemparan batu ke bus Persik Kediri usai laga Liga 1 kontra Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang berlangsung Minggu (11/5/2025).
Ironisnya, laga tersebut merupakan pertandingan perdana Arema FC kembali di Kanjuruhan sejak Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, yang menewaskan ratusan suporter.
Namun, bukannya jadi momen pemulihan, pertandingan justru diwarnai kericuhan.
Tagline “Arema FC Bagi yang Mampu” digunakan Aremania dengan dua makna sindiran.
Di satu sisi, menggambarkan betapa sulitnya menjadi pendukung klub Singo Edan di tengah tekanan publik dan trauma pasca tragedi.
“Mendukung Arema itu hanya untuk yang punya mental kuat,” ujar Shindu Dwi Asmoro, Aremania dari komunitas Blimbingham.
Menurut Shindu, Aremania kerap menjadi sasaran cibiran di media sosial, tak hanya karena insiden terkini, tapi juga karena luka lama yang belum pulih seutuhnya.
Di sisi lain, frasa itu juga menyentil mahalnya harga tiket pertandingan Arema FC.
Untuk tribun ekonomi, tiket dibanderol Rp150 ribu, sedangkan kategori VIP mencapai Rp250 ribu—salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
Bandingkan Harga, Lihat Perbedaan
Sebagai pembanding:
- Persebaya Surabaya: Rp100 ribu (ekonomi)
- Persik Kediri: Rp65 ribu
- Madura United: Rp35 ribu (paket pertandingan)
Harga tinggi itu diberlakukan sejak Arema FC masih berkandang di Stadion Soepriadi, Kota Blitar.
Harapan suporter untuk penyesuaian harga saat kembali ke Kanjuruhan pun pupus.
Menurut Ali Rifki, Koordinator Presidium Aremania Utas, kebijakan ini memang seperti seleksi alam.
“Yang mampu beli tiket, dia yang bisa nonton langsung,” katanya blak-blakan.
Manajemen Arema FC menyatakan bahwa harga tiket ditetapkan berdasarkan kalkulasi biaya operasional pertandingan dan kebutuhan finansial klub yang tinggi.
Loyalitas Suporter vs Kebijakan Ekonomi Klub
Merebaknya tagline "Arema FC Bagi yang Mampu" mencerminkan krisis kepercayaan antara basis suporter dan manajemen klub.
Dalam industri sepak bola modern, loyalitas kerap dipertaruhkan oleh kebijakan ekonomi yang tak selalu berpihak pada inklusivitas.
Ketimpangan harga tiket di Liga 1 pun menegaskan belum meratanya strategi manajemen berbasis komunitas.
Sementara itu, tekanan psikologis terhadap Aremania juga muncul akibat stigma sosial pasca-tragedi.
Sejumlah pengamat menyebut, trauma kolektif seperti yang dialami Aremania butuh waktu lama dan pendekatan empatik untuk pulih.
Menurut penelitian Asia Football Studies, tragedi besar seperti Kanjuruhan membentuk luka psikologis mendalam dan harus disikapi dengan kebijakan suportif, edukatif, dan inklusif—bukan hanya sekadar simbolik. (dam)
Editor : Damianus Bram