SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Kanal pengaduan online milik Pemerintah Kota Surakarta, Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS), kebanjiran keluhan terkait kualitas menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026.
Menu yang kerap disebut masyarakat sebagai “menu kering” itu dinilai kurang layak dan tidak sesuai standar.
Merespons situasi tersebut, Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto mengambil langkah cepat dengan mengirimkan surat kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Surat tersebut berisi permintaan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan MBG selama bulan puasa.
Berdasarkan penelusuran wartawan kami, keluhan yang masuk ke ULAS didominasi laporan soal kualitas menu MBG kering yang dianggap menurun.
Sorotan warga Solo ini sejalan dengan keluhan serupa dari berbagai daerah lain di Indonesia, mulai dari menu yang dinilai kurang layak hingga dugaan ketidaksesuaian dengan standar harga harian per porsi.
Salah satu laporan datang dari warga bernama Aris yang diunggah pada Jumat (27/11) siang. Ia menyoroti kualitas MBG kering dari SPPG Banyuanyar 3.
“Mohon agar ditindaklanjuti kualitas MBG kering saat puasa yang tidak layak dan menurun kualitasnya dari SPPG Banyuanyar 3,” tulisnya dalam laporan ULAS yang turut dilengkapi foto.
Keluhan serupa juga disampaikan Giyanto, orang tua siswa dari SMP Negeri 20 Surakarta. Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir anaknya menerima menu yang dinilai kurang layak.
Pada Selasa (24/2), menu yang diterima berupa roti, kacang oven, telur rebus, dan empat butir rambutan. Sementara pada Kamis (26/2), menu terdiri dari buah pir, roti, dan telur rebus, dengan selai roti yang disebut sudah tidak layak konsumsi.
“Rotinya nggak kemakan karena selainya tengik, tidak enak. Banyak keluhan orang tua, terus ngadunya ke siapa Pak Wali?” tulisnya melalui kanal ULAS.
Dari wilayah Mojo, Pasar Kliwon, keluhan juga datang dari Lusiana. Ia menilai menu yang diterima putranya tidak sebanding dengan standar harga per porsi yang telah ditetapkan. Anaknya sempat menerima menu berupa belimbing yang masih hijau, roti, dan jagung serut.
Bahkan, menurut pengakuannya, pada kesempatan lain anaknya menerima telur rebus yang masih mentah.
“Senin lalu anak saya dapat telur rebus yang masih mentah, akhirnya saya buang karena takut kalau dimakan bikin sakit perut. Apakah karena gratis murid sekolah diberi makan yang asal-asalan? Sebelumnya mohon maaf pak dan terima kasih,” tulisnya.
Menanggapi banyaknya aduan tersebut, Respati menegaskan seluruh menu MBG selama Ramadan harus dievaluasi. Ia menyayangkan jika kualitas makanan yang diterima anak-anak tidak sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan.
“Kami bersurat pada BGN terkait evaluasi MBG di bulan Ramadan ini. Banyak aduan warga ada menu yang tidak tepat. Kami sampaikan ke BGN segera menindaklanjuti SPPG terkait agar segera memperbaiki menu yang diberikan pada anak-anak di sekolah,” tegasnya.
Baca Juga: Resahkan Warga Karakan, ODGJ 60 Tahun Dibawa ke RSJD Soedjarwadi
Pemkot Surakarta berharap evaluasi dari BGN dapat segera dilakukan agar kualitas dan standar gizi MBG tetap terjaga. Terlebih, program tersebut menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan bergizi untuk mendukung tumbuh kembang dan proses belajar mereka. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto