Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Sadranan Mlambong: Merawat Ingatan Leluhur di Bulan Ruwah

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 3 Februari 2026 | 17:28 WIB

Warga Dukuh Mlambong, Musuk, Boyolali menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan leluhur jelang Ramadan.
Warga Dukuh Mlambong, Musuk, Boyolali menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan leluhur jelang Ramadan.

BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Aroma kembang mawar bercampur wangi tanah basah menyambut langkah ratusan warga yang berbondong menuju kompleks makam Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk.

Di bawah rindang pepohonan, mereka duduk melingkar membawa tenong berisi aneka makanan—tanda dimulainya tradisi sadranan, ritual tahunan menjelang datangnya Ramadan.

Bagi warga Mlambong, sadranan bukan sekadar agenda kalender. Ia adalah jembatan batin antara yang hidup dan yang telah tiada.

Doa-doa dilantunkan, nama leluhur disebut satu per satu, seolah menegaskan bahwa ikatan keluarga tak pernah putus meski terpisah alam.

Baca Juga: Nadiem Makarim Mengaku Syok di Persidangan, Tak Menyangka Anak Buah Bagi-bagi Dolar Proyek Chromebook

Ratusan warga dari berbagai dukuh—Mlambong, Rejosari, Gedongsari, Tegalsari, Wonodadi, Magersari, hingga Tegalsari Barat—larut dalam kenduri bersama. Bahkan, tak sedikit perantau pulang khusus untuk ikut sadranan karena makam orang tua dan leluhur mereka berada di tempat itu.

“Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang,” tutur Jaman, tokoh masyarakat setempat, Selasa (3/2). Suaranya pelan namun mantap, seperti menjaga cerita lama agar tak lekang.

Ruwah, Bulan Mengingat yang Berpulang

Sadranan biasanya digelar pada bulan Syaban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa—bulan yang dimaknai sebagai waktu membersihkan diri lahir batin sebelum puasa.

Sehari sebelum kenduri, warga melakukan bubak, yakni membersihkan area makam dari rumput liar. Cangkul, sabit, dan sapu berpindah tangan dengan semangat gotong royong. Keringat mereka seolah menjadi bahasa hormat bagi para pendahulu.

Keesokan harinya, warga kembali datang membawa tenong berisi nasi, lauk, jenang, hingga jajanan pasar. Di tangan lain tergenggam bunga mawar untuk nyekar.

Dipimpin tokoh agama, doa bersama dipanjatkan memohon ampunan bagi leluhur, lalu ditutup dengan makan bersama yang penuh keakraban.

“Tujuannya mendoakan agar dosa-dosa leluhur diampuni dan amalnya diterima. Sekaligus nguri-uri budaya peninggalan nenek moyang,” tambah Jaman.

Merawat Warisan, Merajut Kebersamaan

Baca Juga: Tak Cuma Nama Hary Tanoe, Invoice Rp87,4 Juta Jadi Bukti Keterlibatan Indonesia di Epstein Files, Jeffrey Epstein Pesan Apa?

Di tengah arus modernisasi, sadranan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Anak-anak belajar mengenal akar keluarga, sementara para orang tua meneguhkan kembali makna kebersamaan.

Tradisi serupa juga berlangsung di sejumlah wilayah Kecamatan Cepogo dan daerah lain di Boyolali, meski waktunya berbeda-beda sesuai kesepakatan warga. Namun satu hal sama: semuanya digelar sebelum Ramadan, sebagai penanda bahwa bulan suci akan segera tiba.

Di Mlambong sore itu, doa telah selesai dipanjatkan, tenong mulai terbuka, dan tawa kecil terdengar di sela makan bersama. Sadranan kembali menunaikan tugasnya—menjaga ingatan, merawat tradisi, dan menghangatkan hati yang rindu pada leluhur. (fid/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#boyolali #ramadan #kecamatan musuk #cepogo #Sadranan #Kompleks Makam