Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dian Sastro Koma, Ringgo Hadapi AI di Film Drama Sci-Fi Esok Tanpa Ibu

Andi Aris Widiyanto

Film Esok Tanpa Ibu mengangkat kisah emosional tentang remaja, kehilangan sosok ibu, dan kecanggihan AI.
Film Esok Tanpa Ibu mengangkat kisah emosional tentang remaja, kehilangan sosok ibu, dan kecanggihan AI.


Advertisement

JAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Bagaimana jadinya jika kecanggihan artificial intelligence (AI) digunakan untuk mengobati rindu seorang anak pada ibunya? Pertanyaan itulah yang menjadi napas utama film Esok Tanpa Ibu, karya sutradara Ho Wi-ding, yang memadukan drama keluarga dengan balutan science fiction yang menyentuh.

Film ini mengajak penonton menyelami dunia Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang hidupnya berubah drastis setelah sang ibu, Laras (Dian Sastrowardoyo), mengalami koma.

Hubungan Rama dengan ayahnya, Hendy (Ringgo Agus Rahman), pun kian merenggang. Di tengah kesepian dan kehilangan, Rama menemukan pelarian lewat Alberama I-Bu, sebuah teknologi AI yang diciptakan untuk menggantikan kehadiran sang ibu.

“Film ini punya angle kebaruan. Dramanya kuat, tapi juga dibalut elemen AI yang sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini,” ujar produser Aoura Lovenson Chandra dalam konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta Pusat, Senin (15/12).

Syuting Virtual Production, Hadirkan Nuansa Masa Depan

Tak hanya unggul dari sisi cerita, Esok Tanpa Ibu juga tampil berani secara visual. Film ini menggunakan metode virtual production (VP), sebuah teknologi syuting modern yang memungkinkan penciptaan latar futuristik secara realistis.

Pendekatan ini memberikan pengalaman visual yang segar, sekaligus memperkuat atmosfer dunia masa depan yang menjadi latar cerita.

Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026.

Ringgo Agus Rahman: Tantangan Adu Akting dengan AI

Bagi Ringgo Agus Rahman, film ini menghadirkan pengalaman yang tak biasa. Untuk pertama kalinya, ia harus beradu akting dengan sosok AI, sebuah tantangan tersendiri dalam proses kreatifnya.

“Secara teknis, ini tidak seperti syuting biasanya. Itu menantang dan benar-benar sesuatu yang baru. Saya harus beradaptasi dengan hal teknis yang belum pernah saya alami,” ungkap Ringgo.

Aktor berusia 43 tahun itu mengaku sempat melakukan simulasi syuting dan uji kamera sebelum proses pengambilan gambar dimulai. Menurutnya, tahap tersebut sangat membantu untuk memahami teknologi yang digunakan sekaligus mendalami karakter.

“Kami sempat test cam, jadi tahu seperti apa teknologi yang dipakai. Pas syuting, beberapa kali juga masih harus menyesuaikan,” ujarnya.

Dengan kombinasi cerita emosional, teknologi futuristik, serta jajaran pemain papan atas, Esok Tanpa Ibu digadang-gadang menjadi salah satu film drama sci-fi Indonesia yang paling dinanti tahun depan. (jp/an)

Advertisement

Artikel Terkait

Tren AU Canggih Pakai AI Tuai Polemik, Kreativitas Penulis hingga Pembaca yang Bisa Terbawa Perasaan

Tren AU Canggih Pakai AI Tuai Polemik, Kreativitas Penulis hingga Pembaca yang Bisa Terbawa Perasaan

Polemik tren interactive AU berbasis AI di media sosial. Ulas perdebatan transparansi proses kreatif pembuatan website cerita, fenomena psikologis hubungan parasosial pembaca, hingga pentingnya batas emosional fiksi.

Puji AI Meta, Bill Gates Justru Peringatkan Bahaya Besar AI Bagi Pekerja!

Puji AI Meta, Bill Gates Justru Peringatkan Bahaya Besar AI Bagi Pekerja!

Bill Gates puji kecanggihan agen AI Muse milik Meta, namun beri peringatan keras terkait ancaman disrupsi tenaga kerja, risiko kebocoran data privasi, serta pentingnya batasan etis penggunaan AI bagi kehidupan manusia.

Viral Backdrop BGN Tuai Sorotan: Tulisan Lambang Garuda Jadi Karakter Acak, Diduga Efek Generatif AI

Viral Backdrop BGN Tuai Sorotan: Tulisan Lambang Garuda Jadi Karakter Acak, Diduga Efek Generatif AI

Viral Backdrop BGN Tuai Sorotan: Tulisan Lambang Garuda Jadi Karakter Acak, Diduga Efek Generatif AI

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer