Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Viral Gendut Berlari: Komunitas Lari Solo yang Ubah Ejekan Jadi Energi Perubahan

Alfida Nurcholisah
Penulis: Alfida Nurcholisah❯

Gerakan Gendut Berlari di Solo mengajak penyandang obesitas dan masyarakat umum untuk bergerak lewat kampanye “Ayo Obah”
Gerakan Gendut Berlari di Solo mengajak penyandang obesitas dan masyarakat umum untuk bergerak lewat kampanye “Ayo Obah”


Advertisement

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Berawal dari cibiran, kini menjelma menjadi gerakan perubahan. Itulah perjalanan Gendut Berlari, komunitas yang digagas musisi sekaligus konten kreator asal Surakarta, Topik Sudirman.

Komunitas ini hadir membawa pesan sederhana namun kuat: ayo obah, mari bergerak tanpa harus menunggu tubuh ideal.

Pada April lalu, Topik—yang saat itu memiliki berat 128 kilogram—mulai mengunggah aktivitas larinya di media sosial. Namun langkah awal itu justru disambut komentar meremehkan.

Advertisement

“Halah pace 13 aja dipamerin. Hati-hati engkel, hati-hati dengkul,” kenangnya menirukan komentar netizen.

Alih-alih tumbang, komentar tersebut justru menjadi bahan bakar. Topik menolak tunduk pada stigma bahwa orang bertubuh besar tak mampu berlari. Ia menegaskan bahwa penurunan berat badan bisa dicapai tanpa obat-obatan atau cara instan.

Advertisement

Kini, usahanya membuahkan hasil. Berat badannya turun menjadi 100 kilogram berkat konsistensi berlari setiap hari. Bahkan ketika tubuhnya sempat memunculkan tanda-tanda kelelahan ekstrem, dokter memastikan kondisinya justru menunjukkan perbaikan peredaran darah.

Dari perjalanan pribadi itu, lahirlah Gendut Berlari. Topik mengajak 15 rekannya untuk membentuk komunitas yang kemudian rutin mengadakan event lari bersama. Dalam waktu singkat, sudah delapan event digelar di Solo Raya dan selalu mendapat antusiasme tinggi.

“Gendut Berlari akhirnya tidak hanya menyasar orang obesitas, tapi masyarakat umum dari berbagai daerah juga ikut,” ujarnya.

Gerakan ini menekankan bahwa lari tak harus mahal. Tak perlu sepatu terbaru, busana olahraga trendi, atau tubuh ideal untuk memulai.

“Mau pakai sepatu atau cekeran, yang penting obah. Lari itu nggak akan dapat apa-apa kalau tidak konsisten,” tegasnya.

Kini, akun Instagram @gendutberlari telah diikuti lebih dari 11 ribu pengguna. Komunitas ini juga memproduksi merchandise yang diminati hingga luar negeri, serta mendapat banyak ajakan untuk menggelar event di berbagai kota.

Meski berkembang pesat, Topik mengaku perjuangan sejatinya adalah mematahkan stigma bahwa orang bertubuh besar identik dengan kemalasan atau penampilan negatif.

“Aku ingin membuktikan bahwa orang lemu itu ora elek. Sampai hari ini aku masih berjuang. Bagiku, kurus itu bonus,” tuturnya.

Bagi Topik dan komunitasnya, lari bukan sekadar olahraga. Ini adalah simbol bahwa perubahan besar dimulai dari satu langkah kecil—dilakukan berulang kali, tanpa takut cibiran.

“Yang penting bergerak. Obah. Karena begitu kita memilih bergerak, tidak ada yang mustahil,” pungkasnya. (alf/an)

Advertisement
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com

Artikel Terkait

Terjebak Scroll Tanpa Henti: Sosial Menghabiskan Waktu Luang Anak Muda

Terjebak Scroll Tanpa Henti: Sosial Menghabiskan Waktu Luang Anak Muda

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan menawarkan banyak manfaat jika digunakan sesuai kebutuhan

Merasa Kena Shadowban di Medsos? Komdigi Sarankan Tempuh Langkah Ini ke Platform, Cek Caranya!

Merasa Kena Shadowban di Medsos? Komdigi Sarankan Tempuh Langkah Ini ke Platform, Cek Caranya!

Merasa kena shadowban atau jangkauan konten anjlok? Komdigi sarankan ajukan banding ke platform serta minta algoritma dibuka luas.

Di Tengah Laju Dunia yang Cepat, Ini Alasan Psikolog Imbau Kelola Media Sosial demi Kesehatan Mental

Di Tengah Laju Dunia yang Cepat, Ini Alasan Psikolog Imbau Kelola Media Sosial demi Kesehatan Mental

kita harus mengelola media sosial dengan bijak karena terkadang media sosial sering membuat cemas atau pikiran negatif.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer