SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Paruh kedua kompetisi BRI Super League menghadirkan warna baru dengan masuknya sejumlah pemain jebolan Indian Super League yang memilih melanjutkan karier di Indonesia.
Kondisi kompetisi di India yang sempat tidak menentu menjadi pemicu utama eksodus pemain asing.
Liga yang awalnya dijadwalkan bergulir pada Oktober 2025 itu mengalami penundaan akibat belum adanya sponsor pengganti, sehingga memunculkan ketidakpastian jadwal hingga spekulasi kompetisi batal digelar.
Situasi tersebut membuat banyak pemain mencari kepastian karier di negara lain, termasuk Indonesia yang dinilai lebih stabil.
Sejumlah nama pun merapat ke klub-klub Tanah Air, di antaranya Alaeddine Ajarie (Persija Jakarta), Jon Toral (Persik Kediri), hingga Noah Sadaoui (Dewa United). Tak ketinggalan, gelandang Andrei Alba yang kini memperkuat Persis Solo.
Bergabung pada bursa transfer paruh musim, Andrei Alba langsung memberi dampak signifikan bagi Laskar Sambernyawa yang tengah berjuang keluar dari papan bawah klasemen. Meski memiliki waktu adaptasi yang singkat, performanya mampu mencuri perhatian publik Stadion Manahan.
Alba pun secara terbuka membandingkan kualitas kompetisi yang pernah ia rasakan di India dengan Indonesia. Menurutnya, atmosfer persaingan di Indonesia jauh lebih kompetitif.
“Saya pikir liga di sini lebih kompetitif dan memiliki kualitas yang sedikit lebih baik,” ujarnya kepada wartawan ini.
Ia menilai, salah satu faktor utama yang membuat Liga Indonesia lebih unggul adalah sistem pembinaan pemain lokal yang lebih terstruktur sejak usia dini.
“Pemain lokal di sini lebih berbakat karena memiliki struktur pembinaan melalui akademi usia muda. Di India, banyak pemain yang tidak memiliki latar belakang akademi yang jelas,” imbuhnya.
Selain itu, Alba juga menyoroti persoalan administratif yang sempat melanda kompetisi di India musim ini. Mulai dari masalah kontrak hingga kesepakatan sponsor membuat liga mengalami penundaan panjang yang berdampak pada stabilitas tim dan pemain.
“Indian Super League mengalami beberapa masalah administratif dan kesepakatan sponsor yang menunda dimulainya kompetisi. Hal itu menimbulkan ketidakpastian bagi banyak pemain,” jelasnya.
Kondisi tersebut akhirnya mendorong banyak pemain, termasuk dirinya, untuk mencari klub yang menawarkan kepastian kompetisi.
“Banyak pemain yang memiliki tawaran lain akhirnya memilih pergi dan mencari sesuatu yang lebih pasti,” tegas Alba.
Meski sempat tertunda, Indian Super League akhirnya kembali bergulir pada 14 Februari 2026 dengan diikuti 14 tim. Sementara itu, kompetisi di Indonesia dijadwalkan kembali berlangsung pada April 2026 usai jeda Lebaran.
Di sisi lain, Persis Solo menghadapi tantangan berat di sisa musim. Dengan sembilan pertandingan tersisa, tim kebanggaan warga Solo itu juga harus menjalani hukuman tanpa penonton dalam lima laga kandang.
Situasi tersebut membuat perjuangan Laskar Sambernyawa semakin berat dalam upaya bertahan di kasta tertinggi.
Kini, konsistensi performa menjadi kunci bagi Persis Solo untuk menghindari degradasi. Mampukah mereka bertahan di tengah tekanan hingga akhir musim? (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto