Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Umbul Pengging dan Tradisi Padusan, Ritual Tahunan Sambut Bulan Suci Ramadhan

L
Penulis: Laila Zakiya❯
Umbul Pengging.
Umbul Pengging.

SOLOBALAPAN.COM - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, kawasan Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, biasanya selalu ramai dipadati warga yang ingin melakukan tradisi padusan.


Advertisement

Tradisi mandi bersama di sumber mata air alami ini menjadi salah satu ritual turun-temurun masyarakat Jawa sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin yang dilaksanankan 1-2 hari sebelum menjalankan ibadah puasa.

Setiap tahunnya, padusan di Umbul Pengging kerap digelar meriah.

Prosesinya diawali dengan kirab budaya dari Kantor Kecamatan Banyudono menuju Umbul Ngabean, kemudian dilanjutkan dengan ritual siraman oleh tokoh adat atau duta wisata.

Advertisement

Selain itu, prosesi mandi bersama juga dilaksanakan di umbul-umbul pemandian lain seperti Umbul Tirtomarto dan Umbul Ngabeyan.

Di beberapa daerah, acara padusan ini biasanya dimeriahkan dengan kirab budaya, doa bersama, hingga pertunjukan seni tradisional yang menarik perhatian warga maupun wisatawan.

Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan budaya, tetapi juga menjadi momen kebersamaan masyarakat dalam menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan penuh kesiapan spiritual.

Advertisement

Selain itu, tradisi Padusan adalah bentuk pelestarian budaya leluhur untuk menyucikan jiwa dan raga agar ikhlas serta suci dalam menjalankan ibadah puasa.

Umbul Pengging sendiri berada di pusat komplek pemandian bersejarah peninggalan Raja Surakarta, Paku Buwono X.

Lokasinya terletak dekat dengan Umbul Ngabean, Temanten dan Duda.

Namun, hingga kini belum ada informasi resmi terkait pelaksanaan padusan menjelang Ramadhan tahun ini.

Baik dari pihak pengelola Umbul Pengging maupun Pemerintah Kabupaten Boyolali, belum diumumkan jadwal maupun rangkaian kegiatan padusan seperti yang biasa digelar.

Umumnya, padusan ini dilaksanakan satu atau dua hari sebelum 1 Ramadan.

Sejumlah pengunjung berharap kegiatan padusan tetap dapat dilaksanakan, mengingat tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Boyolali dan sekitarnya.

Sambil menunggu pengumuman resmi, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi dari pihak terkait mengenai pelaksanaan padusan tahun ini. (mg/lz)

 

 

Advertisement
Editor : Laila Zakiya
Sumber : Solo Balapan

Artikel Terkait

Sita 1.040 Liter Pertalite, Polisi Belum Tahan Tersangka Penimbunan BBM di Boyolali

Sita 1.040 Liter Pertalite, Polisi Belum Tahan Tersangka Penimbunan BBM di Boyolali

Tersangka kasus penimbunan 1.040 liter Pertalite di Boyolali belum ditahan. Polres Boyolali masih menunggu hasil uji Labfor Pertamina.

Tragis! Antar Istri Kerja, Nugroho Tewas Ditabrak Mobil yang Diduga Kabur di Boyolali

Tragis! Antar Istri Kerja, Nugroho Tewas Ditabrak Mobil yang Diduga Kabur di Boyolali

Nugroho, 33, tewas diduga menjadi korban tabrak lari di depan Embarkasi Haji Donohudan, Boyolali. Mobil yang diduga terlibat kabur dan kini diharapkan segera terungkap.

Lebih dari Sekadar Hiburan, Makna Filosofis di Balik Dinamisnya Pertunjukan Campur Bawur Boyolali

Lebih dari Sekadar Hiburan, Makna Filosofis di Balik Dinamisnya Pertunjukan Campur Bawur Boyolali

keunikan Campur Bawur terletak pada bentuk penyajiannya yang dinamis. Gerakan para penari dapat menghadirkan karakter yang beragam, mulai dari gerak gagah, halus, lincah, hingga jenaka.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer