Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Memadamkan Api dengan Api? Mengapa Orang Tua Pantang Ikut Tantrum Saat Anak Mengamuk

t
Penulis: tim solobalapan❯
Anak tantrum.(Google).
Orang tua harus memahami karakter anak ketika sedang tantrum. 

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM- Melihat anak tiba-tiba menjerit, menendang-nendang, hingga berguling di lantai tempat umum tentu menjadi ujian kesabaran yang amat berat bagi setiap orang tua. Di tengah tekanan pandangan publik dan rasa lelah, reaksi impulsif seperti ikut membentak, memarahi, atau membalas teriakan anak sering kali menjadi jalan pintas yang tidak terhindarkan.

Advertisement

Namun, dalam dunia psikologi pengasuhan, merespons amukan anak dengan tingkat emosi yang sama ibarat memadamkan api dengan menyiramkan bensin. Ali-Ali meredakan situasi, respons emosional dari orang tua justru akan memperpanjang durasi meltdown dan merusak proses tumbuh kembang regulasi emosi si kecil.

Mekanisme Otak Anak Saat Mengalami Tantrum

Advertisement

Untuk memahami mengapa orang tua pantang ikut tersulut emosi, penting untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak anak saat tantrum terjadi. Bagian otak depan yang berfungsi untuk berpikir logis, mengendalikan impuls, dan mengelola emosi pada anak-anak belum berkembang secara sempurna.

Saat anak mengalami rasa frustrasi, lelah, atau kebingungan yang hebat, sistem saraf mereka secara otomatis beralih ke mode bertahan hidup yang dikendalikan oleh amygdala. Pada kondisi ini, kemampuan anak untuk mendengar penjelasan logis atau instruksi orang tua berada di titik terendah.

Ketika orang tua ikut marah dan membentak, otak anak akan mendeteksi sinyal ancaman tambahan dari lingkungan sekitar. Akibatnya, tingkat hormon stres anak justru makin melonjak, dan tantrum akan berlangsung jauh lebih lama serta intens.

Peran Orang Tua Sebagai co-regulator Emosi

Anak-anak lahir tanpa kemampuan alami untuk menenangkan diri mereka sendiri saat emosi bergejolak. Mereka membutuhkan sosok dewasa yang berfungsi sebagai co-regulator sebuah cermin emosi yang tenang tempat mereka dapat bersandar dan merasa aman.

Proses saraf yang dikenal dengan istilah mirror neurons membuat anak secara tidak sadar menyerap energi dan emosi dari orang-orang terdekat di sekitarnya. Jika orang tua menunjukkan ketenangan, napas yang teratur, serta nada suara yang lembut namun tegas, sistem saraf anak lambat laun akan menyesuaikan diri dan perlahan-lahan ikut tenang.

Dampak Jangka Panjang Ikut 'Tantrum' pada Anak

Menanggapi tantrum dengan amarah berulang dapat membawa dampak jangka panjang yang kurang baik bagi pola tumbuh kembang anak:

Hambatan Regulasi Emosi: Anak belajar merespons konflik dari cara orang tua merespons mereka. Jika orang tua sering berteriak saat stres, anak akan menganggap bahwa meledak-ledak adalah cara standar untuk menyelesaikan masalah.

Merasakan Kecemasan dan Tidak Aman: Anak membutuhkan benteng yang kokoh saat dunia emosional mereka terasa kacau. Jika 'benteng' tersebut (orang tua) ikut hancur dan lepas kendali, anak akan merasa tidak aman dan bingung.

Renggangnya Hubungan Orang Tua dan Anak: Pola komunikasi penuh amarah dapat mengikis rasa percaya anak, sehingga mereka enggan terbuka saat menghadapi masalah yang lebih besar di masa depan.

Langkah Praktis Menghadapi Tantrum dengan Kepala Dingin

Menerapkan ketenangan saat anak mengamuk memang membutuhkan latihan dan jeda yang konsisten. Beberapa langkah praktis berikut dapat membantu orang tua menjaga kendali diri:

Tarik Napas dan Beri Jeda: Saat emosi mulai naik, ambil napas dalam-dalam selama beberapa detik sebelum merespons. Ingatkan diri sendiri bahwa "Ini bukan kondisi darurat, anak saya sedang tidak bisa mengendalikan emosinya."

Pastikan Keamanan Fisik: Amankan lingkungan sekitar dari benda-benda berbahaya. Jika berada di tempat umum, bawa anak ke area yang lebih tenang tanpa rasa panik.

Hadir dan Validasi Emosi tanpa Banyak Bicara: Duduk di dekat anak dengan posisi tubuh yang sejajar. Berikan kalimat singkat yang memvalidasi perasaannya, seperti "Ibu tahu kamu sedang kesal, Ibu ada di sini."

Tunggu Hingga Badai Mereda: Hindari memberi nasihat, ceramah, atau hukuman saat tantrum sedang berada di puncaknya. Diskusi logis baru bisa dilakukan saat napas dan emosi anak sudah benar-benar stabil.

Menghadapi tantrum bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana membantu anak melintasi badai emosi yang belum bisa mereka kelola sendiri. Dengan tetap tenang, orang tua tidak hanya meredakan amukan saat itu juga, tetapi sedang mengajarkan pelajaran hidup paling berharga tentang cara mengendalikan emosi secara sehat. (cindy amelia putri)

Advertisement
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber

Artikel Terkait

Mengapa Laki laki dan Perempuan Menua dengah Psikologis Berbeda?

Mengapa Laki laki dan Perempuan Menua dengah Psikologis Berbeda?

Laki laki dan perempuan bertumbuh dalam kondisi psikologis yang jauh berbeda.

Sering Melamun Saat Diperiksa, Polisi Beri Pendampingan Psikologis untuk Revaldo Fifaldi

Sering Melamun Saat Diperiksa, Polisi Beri Pendampingan Psikologis untuk Revaldo Fifaldi

Hasil tes kesehatan Revaldo dinyatakan stabil, namun polisi beri pendampingan psikologis usai sang aktor kerap melamun saat diperiksa. Penyidik kini dalami transaksi transfer untuk buru pemasok narkotika.

Puncak Realisme Psikologis Charlotte Bronte dalam Sastra Victoria dalam Novel Villette

Puncak Realisme Psikologis Charlotte Bronte dalam Sastra Victoria dalam Novel Villette

Novel Villette karya Charlotte Bronte Menjadi Puncak Realisme Psikologis Charlotte Bronte dalam Sastra Victoria

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer