Gangguan Kognitif Ringan pada Lansia: Ancaman yang Sering Terabaikan


Oleh: dr. Tri Oktaviyantini, Sp.K.J.(K)*
“Dengan lebih dari 80 ribu lansia dan proporsi penduduk usia lanjut yang telah mencapai 13,67%, Surakarta tidak hanya menghadapi tantangan memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga memastikan bahwa para lansianya tetap sehat secara kognitif, mandiri, dan produktif. Di sinilah urgensi pengembangan psikoedukasi kelompok berbasis komunitas bagi lansia dengan Mild Cognitive Impairment (MCI) menjadi sangat relevan.”
Indonesia sedang memasuki era ageing population. Bertambahnya usia harapan hidup merupakan keberhasilan pembangunan kesehatan, tetapi di sisi lain menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya penyakit degeneratif, termasuk gangguan fungsi kognitif pada lansia.
Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian serius adalah Mild Cognitive Impairment (MCI) atau gangguan kognitif ringan, yaitu fase transisi antara proses penuaan normal dan demensia.
Berbeda dengan demensia, lansia dengan MCI masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Namun, kemampuan mengingat, konsentrasi, maupun fungsi berpikir mulai mengalami penurunan. Kondisi ini sering dianggap sebagai bagian normal dari proses menua sehingga tidak memperoleh penanganan yang memadai.
Padahal, fase MCI merupakan "golden period" untuk melakukan intervensi yang bertujuan memperlambat penurunan fungsi kognitif.
Kota Surakarta merupakan salah satu daerah dengan proporsi penduduk lansia yang terus meningkat. Pemerintah Kota telah mengembangkan berbagai pelayanan kesehatan lansia melalui Posyandu Lansia, Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu), dan Puskesmas.
Namun, sebagian besar pelayanan masih berfokus pada penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, atau penyakit jantung. Skrining fungsi kognitif maupun intervensi psikososial untuk MCI belum menjadi bagian rutin pelayanan kesehatan primer.
Baca Juga: Dipicu Percikan Las Dekat Tangki BBM, Sebuah Mobil Ludes Terbakar di Bengkel Karanggede Boyolali
Padahal, berbagai penelitian dengan tingkat bukti tinggi menunjukkan bahwa intervensi nonfarmakologis merupakan pendekatan yang efektif pada fase awal gangguan kognitif.



