Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Bersiap Memandang Dunia dari Kacamata Na Willa

Andi Aris Widiyanto • Senin, 5 Januari 2026 | 15:08 WIB
Ryan Adriandhy
Ryan Adriandhy

Oleh : Ryan Adriandhy (Sutradara-Penulis Naskah Jumbo dan Na Willa)

SOLOBALAPAN.COM - TAHUN 2025 merupakan tahun yang sangat membahagiakan buat saya dan selu ruh tim Jumbo. Ketika cerita kami bisa diterima dengan hangat oleh banyak sekali hati penonton Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, adalah bonus besar yang membuat kami merasa kerja keras ini benar-benar layak Selain pencapaian tersebut, ada hal lain yang penting.

Banyak anak dan orang dewasa yang tertawa, bersorak, dan menangis nonton Jumbo. Jujur, saya terharu banget waktu banyak orang tua cerita kalau mereka juga tersentuh nonton Jum- bo.

Ternyata, film anak-anak bisa jadi cermin juga buat orang dewasa. Banyak yang bilang mereka teringat masa kecil, hubungan dengan orang tua, pertemanan, yang lebih sederhana, atau rasa-rasa kehilangan yang dulu sempat dipendam, dan belum sempat "selesai" bahkan sampai mereka dewasa.

Di 2026, saya akan merilis Na Willa, film live action pertama saya Masih soal anak-anak dan keluarga. Filmnya akan tayang Lebaran 2026.

Membuat film live-action,ternyata sedikit lebih rumit karena berkaitan dengan logistik dunia nyata. Saya banyak berdiskusi dengan sinematografer, production designer, dan tentu saja, kesabaran berkolaborasi mengarahkan banyak sekali aktor anak.

Untuk menulis naskah adaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo, saya membaca ulang novelnya berkali-kali sambil membayangkan visual dan tone yang ingin ditangkap.

Intinya: saya mempersiapkan diri dengan mendengarkan baik dari penulis novelnya, ibu Reda Gaudiamo, dari tim, dan tentunya mendengarkan Ryan kecil yang masih hidup di dalam diri saya.

Saya melihat Na Willa seperti menari berdua: saya harus mengikuti ritme cerita aslinya, tapi juga memberi gerakan dari diri saya sendiri. Saya sangat menghormati karya Reda Gaudiamo. Tulisan beliau begitu penuh jiwa dan sensitivitas.

Saya tidak ingin menggantinya atau mengubahnya, tapi minta izin merayakannya. Saya memasukkan elemen visual, humor, dan suasana khas saya untuk memperkuat pengalaman filmisnya, interpretasi audiovisualnya, tanpa menghilangkan ruh asli cerita.

Walau latar Na Willa adalah tahun 60-an, saya tidak membuat film sejarah. Yang saya kedepankan adalah kacamata seorang anak usia 5 dalam melihat dunia.

Maka 1960-an di film ini menjadi interpretasi Na Willa dalam menghidupinya. Itu yang saya rasakan waktu baca novelnya. Yang Willa alami itu sangat relevan sampai kapan pun: tentang mencari identitas, memahami dunia orang dewasa yang kadang membingungkan, dan berani jadi diri sendiri.

Saya harap Na Willa bisa me nyentuh hati penonton seperti Jumbo, mungkin bahkan lebih dalam. Selain itu, saya ingin terus membuka jalan buat film anak-anak dan keluarga Indonesia, baik animasi maupun live action, supaya mereka punya ruang aman dan menyenangkan untuk terus tumbuh.

Target besarnya sih: bikin anak-anak (dan orang dewasa) terus merasa bahwa bioskop Indonesia adalah tempat ajaib, tempat di mana mereka bisa tertawa, menangis, bercerita, dan bermimpi bareng- bareng. (jp/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Film Jumbo #film keluarga #Na Willa #film anak-anak #film live action