Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

BUMDes Tumang Sukses Tembus E-Katalog Nasional, Layani Pasar Digital Perajin

Ragil Listiyo • Selasa, 1 April 2025 | 15:05 WIB

 

Proses pembuatan kerajinan tembaga Tumang.
Proses pembuatan kerajinan tembaga Tumang.

BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Keberadaan para perajin tembaga di Dusun Tumang, Desa Cepogo, dimanfaatkan secara maksimal untuk menggerakkan ekonomi desa.

Potensi besar ini membawa efek domino yang positif: ekonomi desa makin kuat, Bumdes ikut berkembang, dan anak-anak muda jadi lebih semangat berkarya.

Awalnya, Bumdes dibangun karena desa melihat potensi sekaligus permasalahan yang ada di masyarakat.

Mawardi, Kades Cepogo, bilang bahwa masalah utama waktu itu adalah sampah.

Lalu desa mulai mengaktifkan Bumdes dengan menyuntikkan penyertaan modal dan melibatkan anak-anak muda buat bantu ngembangin pemberdayaan desa.

"Kami juga mencoba memfasilitasi kebutuhan tiap pengusaha. Karena tiap usaha itu membutuhkan ekspedisi, kita akhirnya bekerja sama dengan beberapa ekspedisi. Lalu peluang lain, tiap dusun ada PKH dan pengusaha yang biasanya mengambil uang. Sehingga kami kerja sama dengan perbankan untuk membantu agar mereka mengambil uang ke Bumdes saja," ujar Mawardi.

Felani Ade Widakdo, Direktur Bumdes Tumang, juga menjelaskan kalau Bumdes ini memang nggak langsung terjun di industri kerajinan tembaga, tapi sangat mendukung fasilitas yang dibutuhkan para perajin.

Bahkan, Bumdes Tumang udah berhasil tembus e-katalog LKPP Kemendes PDTT.

"Untuk se-Indonesia tidak lebih dari lima Bumdes yang bisa menembus e-katalog Kemendes PDTT itu. Karena balik lagi bahwa kami kelengkapan dokumen lengkap semua, dari badan hukum, NIB dan lainnya. Sehingga kami bisa lolos e-katalog desa. Kemarin kami juga baru saja menge-deal-kan proyek perajin kami tugu di Jember lewat e-katalog kami," jelas Felani.

Dengan masuk ke e-katalog, Bumdes bisa bantu para perajin menembus marketplace yang sebelumnya sulit dijangkau.

Manfaat lain juga dirasakan masyarakat, terutama soal transaksi keuangan.

Sekarang para perajin nggak perlu jauh-jauh ke bank, cukup hubungi admin Bumdes buat ambil uang, apalagi tiap Sabtu saat gajian karyawan tembaga.

"Kami juga ada Samsat Budiman, masyarakat tinggal membayarkan pajak kendaraan lewat Bumdes. Bahkan kami pernah menjadi yang terbesar se-Jateng karena per hari rata-rata 4–5 wajib pajak (WP) menggunakan jasa Bumdes. Lalu BRIlink kami sehari bisa 80-an orang yang menggunakan. Belum lagi yang paket kerajinan," ujarnya.

Meskipun omzet setahun baru Rp 10 juta, Bumdes nggak berhenti berinovasi.

Mereka terus kembangkan unit usaha, seperti buka pom mini dan kantor baru di Alun-Alun Pancasila.

"Memang belum besar untuk pendapatan desa. Karena laba kami putar lagi untuk unit usaha lain. Di sisi lain, kami masih memiliki hutang yang sangat besar untuk Pertashop, kami masih punya hutang Rp 350 juta," ungkap Felani.

Indri Hapsari, Sekretaris Bumdes Tumang, cerita perjuangan awal nggak gampang.

Bareng Felani dan Veni, mereka butuh waktu tiga bulan untuk petakan kondisi masyarakat—dari masalah kesehatan, ekonomi, sampai UMKM.

Mereka pakai peta dan kuesioner buat observasi. Data ini jadi dasar penting buat ngebentuk Bumdes.

"Nasabah kami sudah hampir 800-an orang, kemanfaatan itu mencapai 3 ribu–5 ribu jiwa untuk masalah sampah ini. Bumdes selain untuk tujuan profit juga benefit-nya yang kami jaga, kami juga membuka dojo karate. Sehingga kami harapkan keberlanjutan dari Bumdes ini dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat," tandasnya. (rgl/lz)

 

Editor : Laila Zakiya
#cepogo boyolali #bumdes tumang