SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, terus menjadi sorotan publik.
Seiring penyelidikan yang berjalan, muncul fakta baru terkait jumlah pelaku hingga penggunaan teknologi dalam pengungkapan kasus ini.
Polda Metro Jaya menegaskan bahwa pengusutan dilakukan secara serius dengan pendekatan ilmiah guna mengungkap pelaku di balik serangan tersebut.
“Fokus utama Kepolisian adalah mengungkap identitas serta menangkap pelaku dibalik aksi kriminal yang mencederai demokrasi tersebut melalui pendekatan ‘scientific crime investigation’,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, Minggu (15/3).
Benarkah Pelaku Berjumlah 4 Orang?
Dugaan jumlah pelaku menjadi salah satu perkembangan penting dalam kasus ini.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi mengidentifikasi lebih dari satu pelaku yang terlibat.
"Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini, kemudian mengikuti korban yang bergerak menuju Jalan Diponegoro dan selanjutnya ke arah Jalan Salemba 1," terang Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, di Jakarta, Senin (16/03).
Temuan ini diperkuat dari rekaman puluhan kamera pengawas (CCTV) yang tersebar di sejumlah titik di Jakarta. Polisi bahkan telah menganalisis sekitar 86 CCTV untuk melacak pergerakan pelaku.
"Kami sangat bersyukur bahwa dengan banyaknya CCTV yang terpantau di jalur-jalur utama maupun dijalur-jalur alternatif yang ada di wilayah Jakarta ini sangat membantu pengungkapan atau proses penyelidikan dan penyidikan yang kami lakukan," imbuhnya.
Tak hanya itu, pelaku juga diduga telah mengikuti korban sebelum melakukan aksi penyerangan.
"Para terduga pelaku diduga telah mengikuti pergerakan korban sejak sebelum kejadian," ujar Iman.
Disebut Terorganisir dan Terlatih
Tim Advokasi untuk Demokrasi menilai bahwa serangan terhadap Andrie bukan aksi spontan.
Ada dugaan kuat bahwa pelaku merupakan pihak yang terlatih dan bekerja secara terorganisir.
"Kami sangat berharap kasus ini diselesaikan setuntas-tuntasnya hingga aktor intelektualnya. Kami menduga pelakunya sangat sulit kita membayangkan dengan level organisir yang sedemikian rupa ini dilakukan oleh sipil," kata Alghiffari.
"Tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang amatiran, tapi dilakukan oleh orang-orang yang sangat terlatih," sambungnya.
Pendapat serupa juga disampaikan pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar yang melihat adanya pola lama dalam kasus-kasus penyerangan terhadap aktivis.
"Di beberapa sisi, masih pakai pola-pola yang lama walau aktor-aktornya sebagian baru. Apalagi ketika korbannya masyarakat sipil yang kritis atau dari lembaga swadaya masyarakat, sebenarnya sudah bisa dibaca," jelas pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar.
Polisi Buka Peluang Buat Sketsa Wajah Pelaku
Di tengah upaya pengungkapan, polisi membuka kemungkinan membuat sketsa wajah pelaku untuk membantu identifikasi.
Namun demikian, polisi berharap pelaku bisa segera ditangkap tanpa harus menunggu proses tersebut.
Waspada Gambar AI yang Menyesatkan
Di sisi lain, polisi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya dengan gambar pelaku yang beredar di media sosial.
Beberapa di antaranya diduga merupakan hasil rekayasa artificial intelligence (AI).
"Kita yakini bahwa itu merupakan hasil dari AI, dan ini mungkin juga ada dugaan untuk menyesatkan proses penyelidikan," terang Budi.
"Kami berharap untuk masyarakat juga bijak agar penyelidikan ini fokus dan tidak terganggu, tidak terintervensi oleh hal-hal yang dibuat sengaja untuk menyesatkan," tegasnya.
Polisi Minta Dukungan Publik
Untuk mempercepat pengungkapan kasus, polisi juga meminta masyarakat memberikan informasi apabila mengetahui kejadian tersebut.
“Kepada seluruh saksi yang mendengar, melihat, mengetahui atau mengalami langsung kejadian ini, kami mohon bantuannya untuk memberikan informasi kepada kami,” katanya.
Selain itu, kepolisian juga membuka posko pengaduan khusus serta hotline untuk menerima laporan dari masyarakat.
Kasus ini kini telah naik ke tahap penyidikan dan menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk DPR yang mendesak agar pengusutan dilakukan secara cepat, transparan, dan menyeluruh hingga ke aktor intelektualnya.
Dengan berbagai bukti yang telah dikumpulkan, publik menanti langkah tegas aparat dalam mengungkap dalang di balik aksi kekerasan yang menimpa Andrie Yunus. (lz)
Editor : Laila Zakiya