SOLOBALAPAN.COM - Penyanyi Denada akhirnya mengungkap cerita lengkap soal masa lalunya bersama sang putra, Ressa Rossano.
Dalam perbincangan bersama Feni Rose, ia membongkar alasan di balik keputusan besar yang diambil saat masih berusia muda.
Tak hanya itu, Denada juga membeberkan bagaimana beratnya menjalani kehamilan di usia 20 tahun dalam kondisi yang jauh dari kata ideal.
Hamil di Usia 20 Tahun, Diliputi Takut dan Bingung
Denada mengakui bahwa dirinya mengandung Ressa saat masih sangat muda dan belum siap secara mental.
"Yang pasti aku takut, pasti ada. Bingung, pasti ada karena mungkin pada saat itu secara mental aku masih belum cukup dewasa," ujar Denada.
Meski dihantui ketakutan, ia menegaskan tak pernah ragu mempertahankan kehamilannya.
"Tapi pada saat dari pertama kali aku tahu bahwa aku hamil, aku tidak pernah ada keraguan selain dengan keputusan untuk keep the baby. Meneruskan kehamilan itu dan melahirkannya," tukasnya.
Tetap Pertahankan Kehamilan Meski Tanpa Sosok Ayah
Dalam pengakuannya, Denada sudah menyadari sejak awal bahwa ia harus siap menghadapi kemungkinan tanpa kehadiran ayah biologis Ressa.
"Ada ketakutan iya. Pada saat itu aku mengambil keputusan itu, langsung aku ambil keputusan itu dengan pemikiran dengan atau tanpa prianya," ucap Denada.
"Aku tahu ada risiko itu. Dan aku mungkin sudah sedikit memperkirakan bahwa itu akan terjadi. Tapi buat aku itu gak membuat aku ragu pada saat itu," ungkapnya.
Sempat Menyembunyikan Kehamilan dari Keluarga
Rasa takut juga membuat Denada sempat menutupi kehamilannya, termasuk dari sang ibu, Emilia Contessa.
"Pasti ada ketakutan ngomong sama Mama. Ketakutan dimarahi, ketakutan bagaimana nanti tanggapan dia, ketakutan bahwa dia akan kecewa," kata Denada.
Namun akhirnya ia memberanikan diri untuk jujur.
"Pada saat aku memberitahukan, aku bukan cuma memberitahukan bahwa aku hamil, tapi juga aku bilang, 'Ma, aku hamil, dan aku akan mempertahankan bayi ini dan aku akan melahirkannya dan aku akan mengurusnya'," sambungnya.
Momen Melahirkan yang Penuh Haru
Denada juga mengenang momen saat melahirkan Ressa yang dilakukan secara normal meski lebih cepat dari perkiraan.
"Aku melahirkan normal dan sebelum waktunya, tapi alhamdulillah sehat," ujar sang artis.
"Kalau ke momen lahiran, yang aku ingat tuh aku pada saat itu aku sendiri dan aku sedih banget. Aku sakit banget rasanya hari itu," bebernya sembari menitikkan air matanya.
Alasan Titipkan Ressa ke Keluarga
Keputusan paling berat dalam hidupnya adalah saat harus merelakan Ressa diasuh oleh keluarga lain. Denada menegaskan, hal itu bukan karena ia membuang anaknya.
"Aku tidak pernah membuang dia," ungkap Denada di konten Feni Rose Official.
"Aku jaga dia, aku pertahankan dia, dan aku lahirkan dia. Jadi tolong, tolong jangan ada yang ngomong kayak gitu (membuang) sama Ressa, jangan," imbuhnya.
Ia mengaku ingin Ressa tumbuh dalam keluarga yang utuh.
"Aku kepengin dia tumbuh besar dengan gambaran keluarga, bapak, ibu yang lengkap. Dia ada di satu rumah tangga yang lengkap," ucap Denada menambahkan.
"Jadi buat aku pada saat itu, dia pasti akan senang di situ. Dia pasti akan senang memiliki sosok-sosok yang seharusnya idealnya ada di rumah," tukasnya.
Tak Pernah Lepas Tangan
Meski tidak membesarkan secara langsung, Denada menegaskan tetap bertanggung jawab terhadap kehidupan Ressa.
"Aku tidak pernah tidak memberikan support secara finansial atau tidak mempedulikan," terang Denada.
Ia bahkan rutin memantau perkembangan sang anak melalui perantara ibunya.
"Mama itu dulu selalu bilang, bahwa 'kamu kalau mau nanya apa pun soal Ressa, anytime, tanya ke mama,'" ungkap Denada, sembari mengenang sang ibu.
Dilema dan Rasa Bersalah yang Terus Menghantui
Denada juga mengungkap alasan mengapa selama ini ia memilih diam soal status Ressa.
"Ada satu masa tuh yang aku pengin ngomong, takut," ujar Denada.
"Takut karena aku melihat kayak udah picture perfect gitu. Sempurna. Dia ada di sebuah keluarga, ada Om Dino sosok bapaknya, tante Ratih, sosok ibunya yang sangat menyayangi dia. Ada kakak-kakaknya, udah picture perfect," sambungnya.
Ia khawatir kejujurannya justru merusak kebahagiaan yang sudah terbentuk.
"Apakah kalau aku ngomong kayak gitu, malah jadi akan merusak itu?" ucapnya.
Di akhir pengakuannya, Denada tak menampik rasa bersalah yang terus ia bawa.
"Ya aku yang pengecut, aku salah, enggak semestinya aku kayak gitu," aku Denada.
"Selamanya aku akan hidup dengan rasa bersalah itu," tandasnya. (lz)
Editor : Laila Zakiya