Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Lebaran 2026 Berpotensi Bareng! Begini Penjelasan Kemenag Soal Peluang Idul Fitri NU dan Muhammadiyah Serentak

Didi Agung Eko Purnomo • Senin, 16 Maret 2026 | 20:23 WIB

Live sidang isbat Kemenag RI yang diselenggarakan di Hotel Borobudur.
Live sidang isbat Kemenag RI yang diselenggarakan di Hotel Borobudur.

SOLOBALAPAN.COM - Potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini kembali menjadi sorotan publik.

Meski sempat diprediksi berbeda, kemungkinan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merayakan Idul Fitri secara bersamaan pada tahun 2026 ini masih terbuka lebar.

Berdasarkan rekapitulasi hitungan Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama, terdapat data yang menunjukkan bahwa ketinggian hilal di beberapa titik wilayah Indonesia sudah mulai mendekati kriteria minimal untuk pergantian bulan hijriah.

Analisis Ketinggian Hilal di Wilayah Barat

Tim Ahli BHR Kemenag Tuban, Kasdikin, mengungkapkan bahwa saat pelaksanaan rukyatul hilal yang dijadwalkan pada 19 Maret mendatang, ketinggian bulan di sejumlah wilayah diperkirakan sudah mencapai angka 3 derajat.

Posisi hilal yang relatif lebih tinggi diprediksi akan terlihat di wilayah barat Indonesia, seperti Medan, Aceh, Padang, dan Jambi.

“Jika melihat itu tentunya Lebarannya bisa bareng,” ujar Kasdikin.

Munculnya angka 3 derajat ini menjadi angin segar bagi terciptanya keseragaman hari raya, mengingat Muhammadiyah sendiri sebelumnya telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 20 Maret.

Baca Juga: Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026: Benarkah Ada Potensi Perbedaan Hari Lebaran 1 Syawal 1447 H?

Kendala Syarat Elongasi MABIMS

Meski ketinggian hilal sudah menyentuh 3 derajat, penetapan ini masih terganjal kesepakatan forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Dalam kriteria terbaru MABIMS, hilal dinyatakan sah jika memenuhi dua syarat akumulatif: ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat.

Kasdikin menyebutkan bahwa meski ketinggian sudah cukup, nilai elongasi saat ini diperkirakan belum mencapai target tersebut.

“Karena meski ketinggian hilal 3 derajat, elongasinya belum sampai 6 derajat. Seperti di Medan elongasi hanya sekitar 5 derajat,” jelas Kepala KUA Rengel tersebut.

Hal ini membuat keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat.

Menanti Keputusan Sidang Isbat 19 Maret

Kepastian mengenai apakah lebaran akan berlangsung serentak atau tidak bergantung pada kebijakan pemerintah dalam sidang isbat nanti.

Pemerintah memiliki pilihan untuk tetap menggunakan kriteria MABIMS secara kaku atau mempertimbangkan kondisi ketinggian hilal yang sudah mencapai 3 derajat sebagai dasar penetapan.

Berikut adalah ringkasan parameter hilal untuk Idul Fitri 2026:

Parameter Kriteria MABIMS Prediksi Wilayah Barat (19 Maret)
Ketinggian Hilal Minimal 3 Derajat Sudah mencapai ±3 Derajat
Elongasi Minimal 6,4 Derajat Masih di angka ±5 Derajat
Potensi Lebaran - 20 Maret (Jika Serentak)

Untuk wilayah Jawa Timur, khususnya Tuban, perhitungan menunjukkan ketinggian hilal kemungkinan belum menyentuh angka 3 derajat.

Oleh karena itu, pengamatan langsung di lapangan pada 19 Maret mendatang akan menjadi kunci utama yang akan dilaporkan dalam sidang isbat untuk menentukan apakah 1 Syawal jatuh pada 20 Maret atau justru lusa harinya.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#muhammadiyah #idul fitri #2026 #lebaran #nu #kemenag