SOLOBALAPAN.COM – Alih-alih mereda, badai kritik yang menerjang Dwi Sasetyaningtyas justru semakin kencang.
Meski telah merilis permohonan maaf terbuka, sang influencer eks penerima beasiswa LPDP ini kembali dihujat setelah netizen membongkar latar belakang keluarganya yang kontradiktif.
Publik mencium adanya aroma ketidakterbukaan mengenai kondisi ekonomi keluarga Tyas.
Narasi "hidup susah" yang sempat ia gaungkan kini dianggap sebagai pembohongan publik oleh warganet.
Permintaan Maaf yang Dinilai Defensif
Dwi Sasetyaningtyas resmi mengunggah permohonan maaf pada Jumat (20/2/2026) melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam klarifikasinya, ia berdalih bahwa ucapannya mengenai kebanggaan anak menjadi WNA Inggris dipicu oleh rasa frustrasi pribadi terhadap kondisi di tanah air.
Namun, masyarakat menilai permintaan maaf tersebut sangat defensif.
Netizen merasa Tyas hanya menyesali kegaduhan yang timbul tanpa menyentuh substansi penghinaannya terhadap identitas WNI.
Investigasi Digital: Klaim "Keluarga Miskin" Dipatahkan
Kritik memanas setelah pengguna platform Threads melakukan investigasi digital. Akun @sabdapilon membongkar dugaan inkonsistensi cerita hidup Tyas yang sebelumnya mengaku berasal dari keluarga sangat sederhana.
Faktanya, keluarga Tyas dan suaminya, Arya Iwantoro, berada dalam posisi ekonomi yang sangat mapan.
Mertua Tyas diketahui merupakan mantan Sekjen di kementerian penting, sementara ayah kandungnya memiliki profesi mentereng.
“Permintaan maaf yang tidak tulus, cuma minta maaf untuk ‘kesalahan’ di urusan menghina WNI. Bagaimana dengan kebohongan si Mbak Sasetyaningtyas mengaku latar belakang dia + suami keluarga miskin,” tulis akun @sabdapilon.
Terungkap: Sosok Ayah Kandung Ternyata Financial Manager
Sorotan tajam kini tertuju pada sosok ayah kandung Dwi Sasetyaningtyas. Sebuah video wawancara lama kembali viral dan menjadi senjata netizen untuk menyerang balik klaim hidup susah sang influencer.
Dalam rekaman tersebut, Tyas secara gamblang mengakui posisi ayahnya yang strategis di dunia profesional.
“Papa saya adalah seorang Financial Manager, semua hal selalu dihitung secara detail,” ungkap Dwi Sasetyaningtyas dalam wawancara tersebut.
Ia bahkan bercerita harus melakukan "presentasi bisnis" kepada sang ayah agar diizinkan kuliah di ITB.
Hal ini dinilai sangat bertolak belakang dengan citra kesulitan ekonomi yang sempat ia bangun di hadapan publik.
Kekecewaan Kelas Menengah atas Isu LPDP
Publik merasa geram karena dana beasiswa yang berasal dari pajak rakyat justru dinikmati oleh kalangan upper class yang secara finansial sangat mampu.
- Manipulasi Latar Belakang: Publik menduga ada upaya "menjual kemiskinan" demi mendapatkan simpati atau akses beasiswa.
- Nasionalisme yang Dipertanyakan: Pernyataan Tyas yang lebih bangga anaknya jadi WNA Inggris dianggap sebagai pengkhianatan terhadap investasi negara.
- Ketidakadilan Sosial: Di saat kelas menengah berjuang dengan beban pajak, alumni beasiswa negara justru memilih menetap di luar negeri dan merendahkan paspor Indonesia.
Tuntutan Transparansi LPDP
Kini, warganet menuntut transparansi total terkait status beasiswa LPDP yang diterima Tyas dan suaminya.
Di tengah beban pajak kelas menengah yang semakin berat, publik merasa tidak adil jika dana negara digunakan oleh kalangan yang sebenarnya mampu secara finansial (anak pejabat/manajer).
Hingga berita ini diturunkan, rekam jejak digital keluarga Tyas masih terus dikuliti.
Masyarakat mendesak pihak berwenang untuk mengevaluasi integritas para penerima beasiswa negara agar tepat sasaran dan benar-benar kembali mengabdi untuk Indonesia.
Kejadian ini menjadi pelajaran mahal buat para public figure, bahwa kejujuran adalah mata uang paling berharga di era digital.
Membangun personal branding sebagai sosok yang "berangkat dari nol" memang menarik simpati, tapi jika itu hanyalah fiksi, internet akan menemukan faktanya hanya dalam hitungan jam.
Di tengah sensitivitas isu pajak dan LPDP, langkah terbaik Tyas saat ini mungkin adalah transparansi penuh, bukan sekadar kata maaf yang defensif. (dam)
Editor : Damianus Bram