SOLOBALAPAN.COM - Setelah memicu kemarahan publik akibat video viralnya yang menghina Suku Sunda dan suporter Persib Bandung (Viking), streamer Muhammad Adimas Firdaus alias Resbob akhirnya muncul ke publik.
Melalui sebuah video klarifikasi yang dirilis pada Kamis (11/12/2025) malam WIB, Resbob menyampaikan permohonan maaf terbuka.
Ia mengaku khilaf, namun di sisi lain, ia berdalih bahwa "mustahil" dirinya memiliki kebencian mendalam terhadap orang Sunda karena latar belakang keluarganya.
Alasan Resbob: Diasuh Ibu Tiri Berdarah Sunda
Dalam klarifikasinya, Resbob mengakui bahwa kata-kata kasar itu memang keluar dari mulutnya.
Namun, ia mencoba meluruskan stigma bahwa ia membenci etnis tersebut.
Resbob mengungkapkan fakta pribadi bahwa meski ibu kandungnya berdarah Padang, ia dibesarkan oleh ibu sambung yang asli Sunda sejak balita.
"Hal itu mustahil dan tidak masuk akal bagi saya (membenci), apalagi terkait dengan suku Sunda... saya dididik sejak kecil umur dua tahun, dibesarkan dengan ibu sambung yang seorang berdarah Sunda, tepatnya orang Tasikmalaya," jelas Resbob.
Tak hanya itu, ia juga menyebut nama tokoh besar yang menjadi gurunya.
"Saya juga dibimbing oleh kiai dan tokoh besar Sunda orang Majalengka, yaitu Prof Asep Saifuddin Chalim," tambahnya.
Ia menegaskan, selama 25 tahun hidupnya, ia tidak pernah memiliki masalah atau perselisihan dengan orang Sunda.
Wagub Jabar Murka: Tangkap Orang Itu!
Meski Resbob telah meminta maaf, nasi sudah menjadi bubur. Video penghinaannya telah memancing amarah para pejabat daerah.
Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar), Erwan Setiawan, merespons kasus ini dengan sangat keras.
Erwan menilai tindakan Resbob bukan sekadar kenakalan di media sosial, melainkan sudah masuk ranah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang berbahaya bagi persatuan bangsa.
"Saya merasa sangat terhina dan saya sangat marah. Saya berharap kepolisian segera menangkap orang tersebut karena ini sudah SARA," tegas Erwan.
Menurut Erwan, aparat keamanan harus bertindak tegas agar kejadian serupa yang berpotensi memecah belah tidak terulang kembali, meskipun masyarakat diminta untuk tidak menaruh dendam pada sukunya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo