SOLOBALAPAN.COM - Nama Atalarik Syach kembali menjadi buah bibir publik usai rumah yang telah ia tempati selama lebih dari dua dekade di Cibinong, Bogor, dibongkar secara paksa oleh Pengadilan Negeri Cibinong.
Eksekusi ini berkaitan dengan sengketa lahan yang belum sepenuhnya inkrah secara hukum.
Peristiwa ini pun membuat netizen kembali mengulik kisah kelam rumah tangga Atalarik dengan mantan istrinya, Tsania Marwa.
Tak sedikit yang menyebut bahwa ini adalah "karma" atas konflik panjang mereka, terutama menyangkut hak asuh anak.
Awal Hubungan dan Pernikahan
Atalarik dan Tsania pertama kali bertemu dalam sebuah proyek sinetron. Chemistry yang terbangun di lokasi syuting berlanjut ke kehidupan nyata.
Mereka menikah pada tahun 2012 dan sempat tampak sebagai pasangan yang harmonis. Pernikahan tersebut membuahkan dua anak: Syarif dan Shabira.
Namun, keharmonisan itu tidak bertahan lama.
Gugatan Cerai dan Awal Perseteruan
Pada 14 Maret 2017, Tsania Marwa mengejutkan publik dengan mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Cibinong.
Meski tidak membeberkan detail konflik, Tsania menyebut bahwa ketidakcocokan sudah tidak bisa diperbaiki.
Proses perceraian mereka resmi berakhir pada Agustus 2017, tetapi konflik berkepanjangan justru dimulai setelahnya, terutama terkait hak asuh anak.
Hak Asuh Anak: Kemenangan Tsania yang Tak Dihormati
Pasca cerai, keduanya sempat menyepakati sistem berbagi waktu asuh.
Namun, dalam kenyataannya, Tsania mengaku kesulitan untuk menjenguk bahkan sekadar bertemu dengan anak-anaknya. Anak-anak diketahui tinggal bersama Atalarik.
Pada 2021, pengadilan menetapkan bahwa hak asuh atas dua anak mereka jatuh kepada Tsania. Sayangnya, keputusan tersebut tidak diikuti dengan kepatuhan dari pihak Atalarik.
Tsania mengaku sempat mengalami perlakuan tak pantas ketika datang ke rumah mantan suaminya untuk menjemput anak-anaknya.
"Selama 7 tahun saya berjuang secara hukum dan emosional sebagai ibu. Tapi anak-anak saya tetap tak kembali ke saya. Bahkan saat memegang hak asuh pun, saya masih berjuang," tutur Tsania, mengungkap rasa frustasinya.
Ia juga menambahkan, "Saya berjuang bukan hanya untuk saya, tapi juga anak-anak saya. Saya ingin mereka tahu bahwa ibunya tidak pernah menyerah memperjuangkan mereka."
Publik pun memberikan simpati pada Tsania dan menilai perjuangannya sebagai bentuk cinta ibu yang tulus, sementara sikap Atalarik dinilai kurang kooperatif terhadap keputusan hukum.
Rumah Dieksekusi, Karma yang Disebut Publik?
Pada 16 Mei 2025, eksekusi rumah Atalarik dilakukan secara paksa oleh aparat.
Sebuah alat berat digunakan untuk membongkar atap rumah, dan momen itu terekam dalam video yang menyebar luas di media sosial.
Atalarik terlihat mencoba menghentikan pembongkaran dan mengklaim bahwa dirinya sedang dizalimi.
“Saya berjuang mempertahankan tanah ini sejak 2015. Tanah ini dibeli sejak tahun 2000,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa proses eksekusi dilakukan tanpa pemberitahuan resmi.
“Tidak ada surat, tidak ada pemberitahuan.
Sekarang rumah saya dibongkar sampai ke genting,” tambahnya dengan nada kecewa.
Meski Atalarik menyatakan bahwa gugatan masih berlangsung dan belum ada keputusan hukum yang final, publik terlanjur menyorot insiden ini sebagai karma dari konflik yang terjadi di masa lalunya.
Kasus ini bukan sekadar soal sengketa tanah atau perceraian artis, tetapi juga potret nyata bagaimana konflik pribadi dapat menumpuk dan membentuk efek domino yang panjang.
Netizen yang menyaksikan perkembangan kasus ini tak hanya mengikuti karena rasa ingin tahu, tetapi juga karena mereka merasa bahwa perjuangan Tsania mewakili banyak suara perempuan yang ingin menegakkan haknya sebagai ibu.
Kini, meski rumah telah rata dengan tanah, drama antara Atalarik dan Tsania mungkin belum sepenuhnya usai. Hukum masih berjalan, dan publik menanti apakah akhirnya keadilan—baik hukum maupun moral—akan benar-benar ditegakkan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo