SOLOBALAPAN.COM - Thanksin Shinawatra kembali menjadi perhatian publik setelah diumumkan sebagai salah satu Dewan Penasihat Danantara, badan pengelola investasi Indonesia yang baru saja merilis struktur kepengurusan mereka pada 24 Maret 2025.
Sebelumnya, Thanksin dikenal sebagai Perdana Menteri Thailand yang memiliki rekam jejak kontroversial.
Shinawatra pertama kali mendirikan Partai Thai Rak Thai pada 15 Juli 1998 dan terpilih sebagai Perdana Menteri Thailand pada 9 Februari 2001.
Selama masa jabatannya, ia dikenal karena kebijakan kontroversial, termasuk peluncuran perang terhadap pengguna narkoba pada 1 Februari 2003 yang mengakibatkan lebih dari 2.800 orang tewas.
Pada Januari 2006, ia menjual Shin Corp, perusahaan keluarga miliknya, kepada Temasek Singapura seharga US$2 miliar, yang memicu unjuk rasa besar-besaran.
Pada 19 September 2006, Thanksin dikudeta oleh militer Thailand yang dipimpin oleh Jenderal Sonthi Boonyaratglin, dan ia pergi ke pengasingan.
Setelah beberapa tahun berada di luar negeri, Thanksin kembali ke Thailand pada 22 Agustus 2023 dan mengunjungi penjara.
Pada 31 Agustus 2023, ia mengajukan permohonan pengampunan kerajaan, yang disetujui, mengurangi hukuman penjara dari 8 tahun menjadi 1 tahun.
Pada 13 Februari 2024, ia dibebaskan bersyarat dan kembali ke keluarganya di Bangkok.
Kini, di bawah struktur kepengurusan Danantara, Thanksin bergabung dengan sejumlah tokoh besar lainnya, seperti Ray Dalio dan Jeffrey Sachs, sebagai Dewan Penasihat.
Langkah ini semakin menarik perhatian publik, mengingat rekam jejaknya yang penuh kontroversi.
Sebelumnya, nama Thanksin juga pernah terseret dalam berbagai kasus, baik di tingkat domestik maupun internasional.
Danantara, yang dipimpin oleh Rosan Perkasa Roeslani sebagai CEO, memiliki sejumlah tokoh terkemuka sebagai bagian dari kepengurusannya.
Selain itu, struktur tersebut juga mencakup Dewan Pengawas yang terdiri dari Erick Thohir dan Muliaman Haddad, serta Dewan Pengarah yang melibatkan Presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Kehadiran Thanksin Shinawatra di Danantara menambah warna pada struktur organisasi yang mencakup berbagai sektor penting, termasuk investasi, ekonomi, dan pengelolaan risiko.
Namun, mengingat masa lalunya yang kontroversial, banyak yang bertanya-tanya apakah peranannya dalam Danantara akan berlanjut tanpa masalah. (lz)