SOLOBALAPAN.COM - Istilah Crunch Culture jadi viral setelah pengakuan soal adanya dugaan kekerasan karyawan di Brandoville Studios milik Cherry Lai viral di media sosial X.
Dalam unggahan viral yang beredar, Brandoville Studios yang diketuai oleh Cherry Lai itu dinilai tak manusiawi memperkerjakan karyawannya.
Dimulai dari bullying fisik dan mental kepada karyawan bernama Christa, Brandoville Studios milik Cherry Lai juga memaksa karyawan hamil bekerja keras hingga pendarahan dan akhirnya kehilangan anaknya.
Ketika ditelusuri di artikel lawas, rupanya Brandoville Studios memang sudah dikenal problematik sejak lama.
Pada tahun 2021 lalu, sebuah artikel menuliskan adanya dugaan crunch culture yang terjadi di Brandoville Studios.
Lantas, apa itu crunch culture?
Crunch culture sederhananya adalah eksploitasi pekerja.
Atau bisa juga disebut sebagai penyalahgunaan hak pekerja.
Istilah crunch culture biasanya digunakan untuk menunjukkan eksploitasi pekerja di bidang pembuatan game.
Contoh crunch culture diantaranya adalah kreator game yang dipaksa bekerja di luar jam kerja untuk mengejar deadline atau tenggat waktu perilisan game.
Dianggap eksploitasi, lantaran kreator game tersebut tak diberikan kompensasi apapun dalam waktu lemburnya itu.
Baca Juga: Gemes Banget! Dituding Gamon dari Rizky Nazar, Syifa Hadju Skakmat dengan Pamer Kebucinan ke El Rumi
Selain di perusahaan pembuat game, crunch culture juga kerap digunakan di perusahaan studio animasi dan sejenisnya.
Mengapa crunch culture dianggap menyalahi aturan?
Eksploitasi karyawan tak seharusnya terjadi lantaran memberikan dampak negatif bagi kesehatan karyawan, dan dapat berdampak ke penurunan kualitas kerja.
Menurut artikel lawas soal Crunch Culture di Brandoville Studios, CEO Ken Lai yang merupakan pasangan Cherry Lai sempat menjanjikan karyawan untuk mendapatkan jatah libur.
Namun jatah libur yang seharusnya didapat para karyawan itu justru ditolak Cherry Lai.
Cherry Lai disebut mengintimidasi para karyawan untuk menolak tawaran jatah libur dari Ken Lai itu. (lz)
Editor : Laila Zakiya