SOLOBALAPAN.COM – Sukoharjo tak henti-hentinya menyimpan berbagai kejutan sejarah.
Di balik deretan bangunan modern di Jalan Mayor Sunaryo dan Jalan Jenderal Sudirman, terselip jejak birokrasi dan ekonomi masa lalu yang nyaris terlupakan.
Siapa sangka, sebuah bangunan yang kini populer sebagai tempat berjualan ayam goreng, dulunya adalah pusat "Pegadaian Rakyat" yang sangat vital di masa perang kemerdekaan.
Pegadaian Rakyat: Dari Puing Perang ke Warung Ayam Goreng
Berdasarkan peta kolonial tahun 1930, kantor pegadaian asli Sukoharjo sebenarnya berada di Jalan Jenderal Sudirman.
Namun, gedung tersebut hancur lebur diterjang badai perang kemerdekaan.
Pegiat sejarah Sukoharjo, Surya Hardjono, mengungkapkan bahwa pasca-kemerdekaan, kantor pegadaian harus berpindah-pindah dan sempat menyewa rumah warga pribumi di Jalan Mayor Sunaryo (depan PKU Muhammadiyah).
Foto dalam buku “Lima Tahun DPRD Kabupaten Sukoharjo 1950–1955” menunjukkan bahwa kantor pegadaian saat itu memang berada di lokasi tersebut.
“Yang tercatat sebagai gedung pegadaian rakyat justru yang di Jalan Mayor Sunaryo, karena pada waktu itu kantornya di situ, meskipun hanya menyewa,” ujar Surya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Uniknya, bangunan saksi bisu ini pernah berubah fungsi menjadi kantor Reskrim Polres Sukoharjo hingga kantor bank, sebelum akhirnya kembali ke pemilik asli.
Kini, di pagi hari, sebagian bangunan bersejarah ini bertransformasi menjadi tempat berjualan ayam goreng yang melegenda bagi warga sekitar.
SDN Sukoharjo II: Arsitektur Bavaria dan Misteri Los Mbako
Bergeser ke depan Kodim, terdapat SD Negeri Sukoharjo II yang memiliki gaya arsitektur tak biasa.
Bangunannya didominasi dinding putih dengan struktur kayu ekspos, mirip dengan gaya Fachwerkhaus khas Bavaria, Jerman.
Namun, di balik keindahan arsitekturnya, tersimpan dugaan fungsi asli yang lebih pragmatis.
Surya menganalisis peta tahun 1930 dan menemukan simbol warna kuning di lokasi tersebut.
“Warna kuning dalam peta kolonial sering merujuk pada Los Mbako atau gudang tembakau. Kuat dugaan sebelum menjadi sekolah, bangunan ini adalah bagian dari distribusi komoditas perkebunan dunia,” jelasnya.
Jika benar, maka SDN Sukoharjo II adalah bukti nyata bahwa Sukoharjo dulunya merupakan simpul penting perdagangan tembakau yang diangkut menggunakan jalur kereta api Solo–Wonogiri. (kwl/nik/dam)
Editor : Damianus Bram