Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Aroma Daun Pisang di Belakang Kampus: Nasi Bakar Special Anak Kost yang Selalu Ludes Sebelum Sore

Iwan Kawul • Jumat, 27 Februari 2026 | 13:23 WIB

Nasi Bakar Special Anak Kost”, menu sederhana yang justru dicintai karena kesahajaannya.
Nasi Bakar Special Anak Kost”, menu sederhana yang justru dicintai karena kesahajaannya.

SOLOBALAPAN.COM – Di sebuah sudut Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, tepat di belakang kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, ada aroma yang tak pernah gagal menggoda.

Bukan sekadar wangi nasi hangat, melainkan perpaduan asap arang dan daun pisang yang terbakar perlahan—menguar lembut, menyusup ke gang-gang kos, seolah memanggil siapa saja yang sedang menahan lapar di akhir bulan.

Di teras rumah yang sekaligus menjadi garasi, Istiqomah (45) setia menjaga bara. Di depannya, bungkusan-bungkusan daun pisang tertata rapi, sebagian sudah mengering kecokelatan tersentuh panas arang.

Dari sanalah lahir “Nasi Bakar Special Anak Kost”, menu sederhana yang justru dicintai karena kesahajaannya.

Baca Juga: Jangan Asal Klik! Viral Link Video Mukena Pink Tanpa Sensor di X dan TikTok Dicurigai Modus Phishing Pencuri Data

Harga satu porsinya hanya Rp 5.000. Ukurannya pas—tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil—cukup untuk mengganjal perut mahasiswa sebelum kembali ke kelas atau menuntaskan tugas.

Ditambah segelas es teh atau teh hangat dan beberapa gorengan, cukup dengan Rp 10.000, makan siang hangat dan wangi sudah tersaji.

Begitu daun pisang dibuka, uap panas langsung menyeruak. Butiran nasi yang pulen tampak menyatu dengan bumbu, menyimpan isian jamur atau teri di bagian tengahnya.

Di atasnya, sejumput kemangi segar menjadi mahkota kecil—memberi sentuhan aroma yang khas, segar, sedikit pedas, dan menggoda.

“Sudah lama berjualan, memanfaatkan teras rumah dan garasi. Ya sasarannya anak-anak kost, banyak rumah-rumah kost di daerah ini,” kata Istiqomah.

Rahasia kenikmatannya ada pada proses yang sederhana namun sabar. Nasi berbumbu diisi lauk—jamur gurih atau teri asin-gurih—lalu diberi topping kemangi sebelum dibungkus rapat dengan daun pisang. Setelah digulung, bungkusan itu dipanggang di atas bara arang.

Perlahan, panas meresap ke dalam nasi. Bumbu semakin menyatu. Daun pisang yang mulai mengering mengeluarkan aroma smokey khas yang tak mungkin dihasilkan kompor biasa.

Baca Juga: Persib Bandung Bantai Madura United 5-0! Intip Strategi Jitu Igor Tolic, Debut Layvin Kurzawa dan Ketajaman Ramon Tanque di GBLA

Setiap gigitan menghadirkan sensasi lengkap: gurih nasi, renyah-asin teri atau lembutnya jamur, disusul semburat wangi kemangi yang menyegarkan. Sederhana, tapi terasa istimewa.

Selain nasi bakar teri dan jamur, varian ayam kemangi juga menjadi favorit. Memang, di banyak tempat nasi bakar hadir dengan isian beragam—tongkol asap, udang, cumi asin hingga ikan asin.

Namun di warung kecil ini, pilihan yang terbatas justru menjaga konsistensi rasa. Pelanggan tahu persis apa yang akan mereka dapatkan: rasa rumahan yang akrab dan selalu dirindukan.

“Tidak cuma nasi bakar, di sini juga banyak aneka penyetan. Tapi yang spesial tetap nasi bakar teri, nasi bakar jamur dan ayam kemangi,” ujarnya.

Jika ditelusuri, nasi bakar kerap disebut sebagai turunan nasi timbel. Keduanya sama-sama dibungkus daun pisang. Bedanya, nasi timbel dikukus, sementara nasi bakar dipanggang di atas arang.

Proses pembakaran itulah yang menghadirkan karakter rasa lebih dalam, lebih harum, dan terasa lebih “hidup”.

Nasi Bakar Special Anak Kost paling cocok ketika disantap dengan gorengan dan segelas es teh manis.
Nasi Bakar Special Anak Kost paling cocok ketika disantap dengan gorengan dan segelas es teh manis.

Di meja kayu sederhana, nasi bakar bersanding dengan lauk lain: ayam goreng kremes, aneka gorengan, sayur tumis hijau, hingga ceker berbumbu kecap yang mengilap.

Baca Juga: Buntut Kasus Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas yang Mangkir dari Tanggung Jawab, LPDP Bakal Cantumkan Nama Alumni Nakal di Website

Semuanya disajikan di atas pincuk kertas beralas daun pisang, menambah kesan tradisional sekaligus hangat.

Tak heran, warung ini kerap menjadi titik temu dadakan mahasiswa sebelum kuliah atau lokasi makan siang bersama teman satu kos.

Obrolan tugas, keluh kesah tanggal tua, hingga rencana akhir pekan sering kali dimulai dari kepulan uap nasi bakar yang baru dibuka.

Warung ini buka sejak pagi. Namun jangan datang terlalu siang jika tak ingin kecewa.

“Buka pagi, biasanya siang sudah habis, tidak sampai sore,” kata Istiqomah sambil tersenyum.

Di belakang kampus yang sibuk itu, aroma daun pisang dan bara arang bukan sekadar penanda jam makan siang. Ia telah menjadi bagian dari ritme hidup mahasiswa—hangat, sederhana, dan selalu dirindukan. (kwl/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Nasi Bakar Ayam Kemangi #Makanan anak kos #Warung Kecil #aneka penyetan #nasi hangat #anak kos