BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Aroma kuah hangat yang mengepul pelan menjadi penanda pagi di Desa Jipangan, Kecamatan Banyudono.
Di antara hamparan sawah yang masih diselimuti embun, berdiri sebuah warung soto sederhana yang sukses mencuri perhatian para pencinta kuliner.
Bukan soto ayam suwir atau soto daging seperti kebanyakan soto Boyolali, warung ini justru menyajikan soto balungan ayam yang gurih dan menggoda.
Warung tersebut bernama Soto Balungan Kin-Kin, berlokasi di Dukuh Demangan, Desa Jipangan. Sejak pagi buta, warung ini tak pernah sepi pembeli dan kini menjelma menjadi salah satu destinasi sarapan favorit warga Soloraya.
Pemilik warung, Puji Lestari, menuturkan bahwa ide soto balungan lahir dari kebiasaan memasak tulang ayam dan sapi. Lingkungan sekitar yang melimpah bahan balungan membuatnya berpikir untuk mengolahnya menjadi sajian berbeda.
“Dulu waktu awal buka, saya lihat belum ada soto balungan di Boyolali,” ujar Puji.
Warung Soto Balungan Kin-Kin mulai beroperasi sejak 2024. Ciri khas yang langsung membedakannya dari soto lain adalah kuah kuning pekat yang tampak menggoda sejak disajikan.
Kuahnya terasa ringan namun kaya rempah, meninggalkan sensasi gurih yang hangat di tenggorokan.
Balungan yang digunakan pun bukan sembarang tulang. Puji memastikan balungan ayam yang disajikan masih berisi daging yang empuk, sehingga tetap nikmat disantap hingga ke sela-sela tulang.
Soal harga, soto balungan Kin-Kin ramah di kantong. Porsi kecil dibanderol Rp 5.000, sementara porsi besar cukup Rp 7.000.
Untuk pelengkap, tersedia gorengan hangat dan aneka sate-satean yang semakin menyempurnakan santapan pagi.
“Saya fokus soto saja, soto ayam suwir dan soto balungan. Paling ramai itu jam sarapan, dari buka sampai jam 10 masih terus ramai,” lanjut Puji.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB, khusus hari Minggu bahkan lebih awal, yakni pukul 05.30 WIB.
Dalam sehari, Puji bisa menghabiskan 10–15 kilogram balungan di hari biasa. Saat akhir pekan, jumlahnya melonjak hingga 25–35 kilogram.
Menariknya, pelanggan warung ini justru banyak berasal dari luar Banyudono. Mulai dari kawasan Bandara Adi Soemarmo, Kota Solo, hingga Pasar Klewer.
Salah satu pelanggan setia, Oktavia Reni, mengaku kerap menyempatkan diri sarapan di warung tersebut. Menurutnya, selain rasanya yang gurih, suasana sekitar warung juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Kalau pagi ke sini itu suasananya syahdu, dekat sawah. Harganya murah, rasanya gurih. Ciri khasnya balungan ini, empuk dan seger. Cocok banget buat sarapan,” ujarnya. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto