KLATEN, SOLOBALAPAN.COM — Kawasan wisata Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, tak lagi hanya memanjakan mata dengan hamparan air yang tenang.
Kini, lidah para wisatawan juga dimanjakan lewat aroma gurih Nila Krispi Duri Lunak dan Baby Nila Krispi yang renyah menggoda.
Di antara deretan penjual oleh-oleh, lapak milik Sarno (52) dengan label Oleh-oleh Khas Rowo Jombor menjadi salah satu yang paling ramai diserbu pengunjung, terutama saat akhir pekan.
Aroma ikan goreng krispi yang keluar dari dapurnya kerap menjadi “panggilan tak tertulis” bagi wisatawan yang melintas.
Wartawan kami berkesempatan menyaksikan langsung proses produksi camilan ikan ini. Di dapur sederhana namun bersih, sejumlah pekerja tampak telaten membersihkan ikan nila, membuang isi perut hingga lendir benar-benar hilang.
Di sudut lain, ikan nila digoreng kembali untuk kedua kalinya—tahap krusial demi menghasilkan tekstur krispi sempurna.
Usaha yang dikenal dengan sebutan Nila Krispi Bu Piyah ini dirintis Sarno, yang sebelumnya hanya nelayan lepas di Rowo Jombor.
Awalnya, ia menjual ikan mentah ke tengkulak. Namun ketika pemasaran kian sulit, Sarno memilih jalan berbeda: mengolah sendiri hasil tangkapannya.
Sejak dua tahun terakhir, setiap pagi selepas subuh, pria kelahiran 1974 itu menyusuri waduk dengan perahu modifikasi untuk menjaring ikan nila liar.
Dalam sehari, ia mampu mengumpulkan 40–60 kilogram ikan mentah, yang kemudian diolah menjadi sekitar 20–25 kilogram nila krispi duri lunak.
Rahasia kelezatan produk Sarno terletak pada detail proses. Kebersihan menjadi kunci utama sebelum ikan bersentuhan dengan bumbu dan minyak panas.
“Jadi ikan kami belah, dibersihkan dengan air mengalir sampai warna hitam di dinding perut benar-benar hilang. Lendir juga harus bersih total, supaya tidak pahit dan tidak cepat bau,” ujar Sarno, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Aturan Baru Coretax 2026: NPWP Suami Istri Mending Digabung atau Dipisah agar Lapor SPT Lebih Mudah?
Ikan yang telah bersih kemudian direndam bumbu racikan khusus selama 1 hingga 1,5 jam. Untuk penggorengan, Sarno pantang menggunakan minyak curah. Ia memilih minyak kemasan bermerek demi menjaga cita rasa dan tampilan ikan tetap cantik keemasan.
Teknik dua kali penggorengan menjadi kunci tekstur. Gorengan pertama ditiriskan dan didinginkan alami tanpa alat bantu. Esok harinya, ikan digoreng kembali hingga benar-benar krispi, dengan duri yang lunak dan bisa dimakan.
Dalam hal pemasaran, Sarno punya jurus yang jarang ditolak pembeli: tester gratis sepuasnya. Produk nila krispi dan baby nila krispi disajikan ala prasmanan.
“Silakan dicoba dulu. Gratis. Kalau enak, bilang enak dan beli. Kalau tidak cocok, ya tidak usah beli,” katanya sambil tersenyum.
Kini, Nila Krispi Rowo Jombor tak hanya jadi buruan wisatawan lokal. Produk ini telah melanglang ke berbagai kota seperti Jakarta, Karawang, Tangerang, hingga Sampit, Kalimantan Tengah, berkat layanan penjualan online dan pengiriman ke seluruh Indonesia.
Untuk harga, Sarno mematok Rp80 ribu per kilogram. Biaya tambahan dikenakan untuk pengiriman luar kota dan luar pulau. Meski varian original masih menjadi primadona, Sarno mulai menyiapkan inovasi rasa seperti pedas—tentu dengan tetap menjaga kualitas bahan baku agar cita rasa khasnya tak terganggu. (ren/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto