Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Bertahan Sejak 1928, Jenang Ayu Niten Tetap Laris Manis Saat Libur Panjang, ini Resepnya

Angga Purenda • Senin, 5 Januari 2026 | 16:00 WIB

Jenang Ayu Niten, kuliner legendaris Klaten sejak 1928, jadi buruan perantau saat libur Nataru.
Jenang Ayu Niten, kuliner legendaris Klaten sejak 1928, jadi buruan perantau saat libur Nataru.

SOLOBALAPAN.COM – Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) benar-benar menjadi berkah bagi pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Klaten.

Salah satu yang paling diburu para perantau sebelum kembali ke kota rantau adalah Jenang Ayu Niten, kuliner legendaris asal Dusun Niten, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Klaten.

Panganan manis dengan tekstur legit ini mengalami lonjakan permintaan signifikan seiring arus mudik dan balik warga perantauan.

Tak sedikit pembeli yang rela antre demi membawa pulang jenang sebagai oleh-oleh khas Klaten.

Baca Juga: Terjepit Transisi ASN, Ribuan THL Karanganyar Dirumahkan: Menanti Kepastian PPPK dan Skema Outsourcing

Pengelola Jenang Ayu Niten, Dwi Atmanti, mengungkapkan selama libur Nataru aktivitas dapur produksinya meningkat tajam. Jika pada hari biasa produksi hanya sekitar 20 kilogram per hari, saat musim liburan bisa melonjak hingga lebih dari 50 kilogram.

“Pemasaran kami sebenarnya sudah sampai Solo dan Jogja. Tapi saat libur Nataru seperti ini, banyak perantau dari luar Jawa yang datang langsung ke sini untuk membeli oleh-oleh,” ujar Dwi saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (4/1/2025).

Tak hanya soal rasa, Jenang Ayu Niten punya nilai sejarah panjang. Usaha ini telah berdiri sejak 1928 dan kini dikelola oleh generasi keenam. Konsistensi menjaga resep tradisional menjadi kunci mengapa jenang ini tetap dicintai lintas generasi.

Dalam proses produksinya, Jenang Ayu Niten menggunakan gula Jawa murni tanpa campuran, sehingga teksturnya tidak alot dan mudah diiris. Santan kelapa yang digunakan pun dipilih dari kualitas terbaik.

“Proses memasaknya sekitar lima jam, terus diaduk di atas tungku kayu bakar. Dari situlah aroma khas jenang muncul, yang tidak bisa didapatkan kalau pakai kompor gas,” jelas Dwi.

Meski diproduksi secara tradisional dan tanpa bahan pengawet, Jenang Ayu Niten mampu bertahan hingga dua bulan. Daya tahan ini membuatnya ideal sebagai oleh-oleh, bahkan untuk dibawa ke luar pulau.

Baca Juga: Pemakaman Tak Biasa di Solo: Damkar Turun Tangan Angkut Jenazah 200 Kg Lewati Jembatan Sempit

Menariknya, di tengah gempuran jajanan modern, Jenang Ayu Niten tetap diminati berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Penjualan pun kini merambah platform online.

Untuk harga, satu kilogram jenang dibanderol Rp100.000. Pengelola juga menyediakan berbagai pilihan kemasan, mulai dari kemasan kecil 2 ons seharga Rp23.000 (isi sekitar 11–12 potongan) hingga kemasan besar 3 kilogram yang biasanya dipesan untuk keperluan hajatan atau hantaran.

Selain jenang ayu sebagai produk unggulan, tempat ini juga menyediakan aneka oleh-oleh khas lainnya seperti krasikan dan permen tape.

Salah satu pembeli, Adam Sutanto (55) asal Sleman, DIY, mengaku selalu menyempatkan diri membeli Jenang Ayu Niten setiap libur panjang.

“Jenang Ayu Niten ini sudah cukup terkenal. Saya langganan tiap ke Klaten buat oleh-oleh. Rasanya enak dan awet,” ungkap Adam. (ren/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#dusun niten #Jenang Ayu Niten #klaten #gula jawa #libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) #UMKM kuliner Balikpapan #oleh-oleh