Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kuliner Langka Jenang Gempol Klaten, Eksis 44 Tahun Berkat Ketelatenan Ngatiyem

Angga Purenda • Jumat, 26 September 2025 | 22:23 WIB

Jajanan tradisional, jenang gempol, Kudapan manis dan gurih.
Jajanan tradisional, jenang gempol, Kudapan manis dan gurih.

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah derasnya kuliner modern, ada satu sajian tradisional Jawa yang masih bertahan di Kabupaten Klaten: jenang gempol.

Kudapan manis gurih ini memang sudah jarang ditemui, namun berkat ketekunan seorang perempuan sepuh bernama Ngatiyem (70), kuliner ini tetap lestari.

Ngatiyem, yang akrab disapa dengan nama warungnya Mbah Trimo (diambil dari nama almarhum suaminya), telah mendedikasikan hidupnya untuk menjajakan jenang gempol selama 44 tahun lamanya.

Baca Juga: Jadi Sorotan! Leony Tantang Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie Debat Terbuka Soal Penggunaan Anggaran

Kini ia berjualan di sebuah teras sederhana di tepi Jalan Sekarsuli-Senden, Desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara.

“Dulu saya keliling jalan kaki, dari Gatak, Karanglo, Gayamprit, Damaran, Kauman sampai Pasar Ngepos. Semua bubur saya gendong pakai tenggok, bawa jerigen air juga. Itu saya jalani lebih dari 30 tahun,” kenang Ngatiyem.

Seiring usia yang tak lagi muda, Ngatiyem memutuskan untuk berjualan menetap di lokasi sekarang. Sudah 14 tahun ia menempati warung mungil itu, dan pelanggannya datang silih berganti, mulai dari warga sekitar hingga pembeli yang sengaja singgah karena rindu cita rasa tradisional.

Baca Juga: Viral di Media Sosial, Pertamina Bongkar 3 Hoaks BBM yang Beredar di Jagat Maya

Setiap mangkuk jenang gempol berisi kombinasi bubur sumsum coklat yang legit, bubur mutiara, ketan hitam, bola-bola gempol yang gurih, lalu disiram kuah santan segar.

Menariknya, pembeli bisa melihat langsung bagaimana Ngatiyem membuat kuah santan: memarut kelapa, memerasnya, hingga menghasilkan santan murni yang gurih alami.

“Setiap hari saya butuh tiga butir kelapa untuk santannya, dan dua kilo tepung beras untuk gempolnya,” tuturnya.

Ngatiyem memulai aktivitas memasak sejak pukul 01.30 dini hari, sebelum akhirnya berjualan pukul 07.00–15.00. Dalam sehari, ia bisa melayani hingga 300 porsi, bahkan kadang menerima pesanan dalam jumlah besar, antara 100 hingga 500 porsi.

Baca Juga: KPK Geledah Rumah Gubernur Kalbar Ria Norsan Terkait Dugaan Korupsi Jalan Mempawah

Soal harga, Ngatiyem masih mempertahankan harga yang sangat terjangkau. “Dulu Rp 500 per mangkuk, sekarang Rp 3.000. Kalau yang lebih besar Rp 5.000,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski sederhana, dari berjualan jenang gempol inilah Ngatiyem bisa menyekolahkan empat anaknya hingga berkeluarga.

Ngatiyen penjual jenang gempol sudah berjualan selama 44 tahun
Ngatiyen penjual jenang gempol sudah berjualan selama 44 tahun

Kini, ia berharap ada generasi penerus yang mau melestarikan kuliner ini, meski anak-anaknya lebih memilih meneruskan usaha rujak warisan sang suami.

“Saya bangga bisa terus berjualan jenang gempol. Kalau bisa ya sampai akhir hayat. Karena ini warisan leluhur yang jangan sampai hilang,” ucap Ngatiyem dengan mata berbinar.

Di tengah modernisasi kuliner, kiprah Ngatiyem adalah bukti bahwa cinta pada tradisi bisa menjaga warisan budaya tetap hidup. Seporsi jenang gempol bukan sekadar makanan, melainkan juga cerita perjuangan dan dedikasi yang tak ternilai. (ren)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#jenang gempol #klaten #Sajian Tradisional #kudapan