SOLOBALAPAN.COM – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalan Slamet Riyadi, berdiri sebuah gapura klasik yang masih megah.
Gerbang itu adalah pintu masuk Taman Sriwedari, ikon Kota Solo yang sejak awal abad ke-20 hingga kini tetap menjadi magnet wisata budaya dan rekreasi.
Melirik sejarah, awalnya, kawasan ini difungsikan sebagai taman milik raja Kasunanan Surakarta.
Selain jadi tempat hiburan rakyat, Sriwedari juga kerap digunakan abdi dalem dan sentana dalem keraton untuk beraktivitas.
Jejak Sejarah Taman Sriwedari
Lahan tempat berdirinya Taman Sriwedari dibeli oleh Pakubuwono IX dari orang Belanda bernama Johanness Busselarr seharga 65.000 Gulden.
Berdasarkan akta notaris nomor 10 tanggal 13 Juli 1877, lahan tersebut kemudian diwariskan kepada putra mahkotanya, Pakubuwono X.
Pembangunan taman tak lepas dari peran Pakubuwono X bersama patihnya, Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV.
Mereka merancang taman di kawasan Kadipala yang kala itu masih berupa lahan kosong.
Pada periode 1905–1917, Sriwedari mengalami pemugaran besar-besaran. Berbagai fasilitas dibangun, mulai dari kebun binatang mini, pendapa besar, Gedung Wayang Orang, bioskop, hingga stadion sepak bola.
Sejak itu, Sriwedari menjelma jadi pusat sosial, hiburan, sekaligus budaya di Surakarta.
Melansir Majalah Kejawen edisi 28 Maret 1928, nama “Sriwedari” diambil dari Serat Arjunasasra.
Disebutkan, Sriwedari adalah taman buatan Prabu Arjunasasra yang keindahannya setara dengan taman surga ciptaan Sri Batara Wisnu.
Fasilitas Sriwedari dari Masa ke Masa
Sejak diresmikan tahun 1901, Taman Sriwedari berfungsi ganda: kebun raja sekaligus tempat rekreasi rakyat.
Kala itu, nuansa keraton sangat terasa dengan keberadaan joglo seni, Gedung Wayang Orang, pepohonan rindang, hingga kebun binatang kecil.
Pertunjukan seni seperti tari tradisional, gamelan, dan wayang orang rutin digelar, menjadikannya destinasi wisata budaya terfavorit di Solo.
Kini, pada 2025, wajah Sriwedari tampak berbeda dengan kehadiran taman di tengah kota yang menjadi jujugan keluarga untuk healing atau piknik bersama keluarga.
Selain itu, Gedung Wayang Orang masih menjadi daya tarik utama dengan pertunjukan seni yang lestari lebih dari satu abad.
Tak hanya itu, pengunjung bisa memberi makan rusa jinak dengan biaya Rp5.000–Rp10.000.
Revitalisasi juga sedang berjalan di kawasan Segaran, termasuk pelestarian kolam dan Gua Swara.
Upaya ini menghadirkan kembali nuansa klasik sekaligus memperkaya nilai edukasi budaya bagi generasi muda. (mg4/dam)
Editor : Damianus Bram