SOLOBALAPAN.COM – Boyolali dikenal memiliki banyak pemandian alami atau umbul yang jadi favorit wisatawan, terutama saat akhir pekan atau libur panjang.
Salah satu yang paling populer sekaligus sarat sejarah adalah Umbul Pengging di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah.
Tempat wisata ini memiliki tiga kolam pemandian alami dan satu kolam buatan untuk anak-anak.
Dari tiga kolam tersebut, Umbul Duda atau yang dahulu dikenal dengan nama Umbul Katunda, menjadi yang paling legendaris karena menyimpan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.
Kisah Legenda Umbul Duda
Menurut pengelola Umbul Pengging, Nur Mila, cerita legenda dan sejarah pemandian ini diwariskan dari orang tua dan leluhur setempat. Dahulu, hanya ada satu kolam yang kini dikenal sebagai Umbul Duda.
Legenda bermula dari perang antara Keraton Prambanan melawan Keraton Pengging Wanasegara.
Pasukan Prambanan dipimpin oleh Patih Gupala, sementara Keraton Pengging dipimpin Prabu Damar Maya, ayah Bandung Bondowoso.
Dalam perjalanan menuju Keraton Prambanan, Bandung Bondowoso merasa haus dan lelah. Ia lalu melubangi tanah hingga keluar mata air yang kemudian membentuk sebuah kolam.
Tempat ini dinamakan Umbul Katunda, yang berarti perjalanan Bandung Bondowoso sempat tertunda (katunda) karena haus.
Seiring waktu, muncul dua mata air lain di sekitar Umbul Katunda, yakni Umbul Temanten dan Umbul Ngabean.
Asal Nama Umbul Duda
Meski awalnya bernama Umbul Katunda, masyarakat kini lebih mengenalnya sebagai Umbul Duda.
Nama ini diyakini berasal dari kisah seorang pria yang ditinggal istrinya. Karena cinta mendalam kepada sang istri, ia memilih tinggal di umbul tersebut hingga akhir hayatnya. Dari situlah muncul sebutan Umbul Duda.
Meski demikian, tidak ada mitos atau larangan khusus bagi pria beristri untuk mandi di sana. “Pemandian ini tidak akan menyebabkan pria menikah menjadi duda,” jelas Nur Mila.
Kini, Umbul Duda menjadi salah satu destinasi wisata air favorit di Boyolali.
Selain menawarkan kesegaran air jernih langsung dari mata air, tempat ini juga menyuguhkan nuansa sejarah dan legenda yang masih hidup di tengah masyarakat. (mg5/dam)
Editor : Damianus Bram