SOLOBALAPAN.COM – Kota Solo dikenal sebagai kota budaya dengan pesona batik, kuliner, dan tradisi Jawa yang kental. Namun, sisi spiritualnya juga tak kalah menarik.
Di balik hiruk-pikuk kota, berdiri sejumlah masjid bersejarah yang menjadi saksi perjalanan dakwah, persilangan budaya, dan perkembangan peradaban Islam di Jawa.
Masjid-masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah.
Berikut lima masjid bersejarah dan ikonik di Solo yang wajib kamu kunjungi:
1. Masjid Raya Sheikh Zayed
Diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Masjid Raya Sheikh Zayed menjadi ikon baru Solo.
Dibangun sebagai simbol persahabatan dua negara, masjid megah berwarna putih ini menghadirkan arsitektur Timur Tengah dengan kubah besar dan empat menara menjulang.
Pagi atau senja hari, cahaya yang memantul di dindingnya menciptakan panorama menawan.
Lokasi: Jl. A. Yani No.121, Gilingan, Banjarsari, Kota Surakarta.
2. Masjid Laweyan
Dibangun pada 1546 M pada masa Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), Masjid Laweyan termasuk salah satu yang tertua di Solo.
Masjid ini dulunya pura, kemudian menjadi pusat dakwah Islam di kawasan Laweyan yang dikenal sebagai kampung batik.
Arsitekturnya sederhana dengan serambi terbuka yang akrab dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Di sekitarnya, deretan rumah-rumah saudagar batik lawas masih berdiri, memperlihatkan bagaimana spiritual, ekonomi, dan budaya tumbuh berdampingan.
Lokasi: Jl. Liris No.1, Belukan, Pajang, Laweyan, Kota Surakarta.
3. Masjid Agung Keraton Surakarta
Masjid Agung Surakarta dibangun pada masa Sunan Pakubuwono III dan selesai pada 1768 M.
Bergaya arsitektur Jawa klasik dengan halaman luas, serambi lebar, dan atap tajug berundak.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berperan penting dalam kegiatan sosial, pengajian, hingga upacara yang berkaitan dengan tradisi keraton (hajad ndalem).
Masjid Agung Surakarta juga tercatat sebagai cagar budaya, yang artinya keberadaannya dilindungi oleh negara.
Lokasi: Jl. Masjid Agung No.1, Kauman, Ps. Kliwon, Kota Surakarta.
4. Masjid Al Wustho Mangkunegaran
Masjid ini berdiri sekitar 1763 M di era Mangkunegara I dan dipugar besar-besaran pada masa Mangkunegara VII dengan sentuhan arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten.
Terletak di barat Pura Mangkunegaran, masjid ini memiliki atap tajug tumpang tiga, empat saka guru, serta menara segi delapan khas.
Masjid Al Wustho ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Solo, fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah kerajaan Mangkunegaran.
Lokasi: Jl. Kartini No.3, Ketelan, Banjarsari, Kota Surakarta.
5. Masjid Riyadh
Masjid Riyadh didirikan oleh Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi pada 1916 M (versi lain menyebut 1933).
Sejak awal berdirinya, Masjid Riyadh identik dengan tradisi maulid dan pembacaan kitab Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dari Hadramaut, Yaman.
Masjid ini juga menjadi tuan rumah Haul Akbar Solo (peringatan wafatnya Habib Ali Al Habsyi), yang dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah.
Pada momen ini, kawasan Pasar Kliwon berubah menjadi lautan manusia yang larut dalam suasana religius.
Lokasi: Jl. Ibu Pertiwi, Pasar Kliwon, Kota Surakarta.
Jejak Peradaban Islam di Solo
Kelima masjid bersejarah ini menjadi penanda perjalanan panjang Islam di Kota Solo.
Dari masjid tertua abad ke-16 hingga masjid megah abad ke-21, semuanya menyimpan kisah dakwah, budaya, dan spiritualitas yang terus hidup di tengah masyarakat. (mg4/dam)
Editor : Damianus Bram