SOLOBALAPAN.COM – Di kaki Gunung Lawu, Karanganyar, terdapat kompleks tujuh sumber mata air yang dikenal dengan nama Sapta Tirta Pablengan.
Selain menyuguhkan kesegaran alami, kawasan ini juga menyimpan nilai spiritual yang kental.
Dari tujuh sumber tersebut, Air Bleng menempati urutan pertama dalam setiap rangkaian ritual.
Mata air dingin ini dipercaya mampu membulatkan tekad dan meneguhkan hati.
“Untuk ritual tergantung orangnya mau menggunakan air apa, tapi kebanyakan tujuh sumber mata air itu digunakan semua, dari air Bleng terus nanti jalannya ke selatan sampai terakhir air hangat. Air yang paling dingin itu air Bleng,” ujar Yunita, tour guide Sapta Tirta, saat ditemui SoloBalapan.com, Minggu (31/8/2025).
Simbol Awal Perjalanan Hidup
Mandi atau sekadar mencuci muka dengan Air Bleng dipercaya bisa menjernihkan pikiran, meneguhkan hati, serta memantapkan langkah.
Keyakinan itu menjadikan Air Bleng bukan sekadar sumber air biasa, melainkan simbol awal perjalanan hidup.
Bagi masyarakat sekitar, Air Bleng juga sangat lekat dengan tradisi sehari-hari. Secara turun-temurun, sumber ini digunakan sebagai bahan dasar pembuatan karak.
“Orang sekitar sini menggunakan air itu untuk bahan dasar pembuatan karak, kaya puli pecel. Kalau orang sini ambilnya di Air Bleng. Kalau bahan dasar itu biasanya pakai cetitet, tapi kalau orang sini tidak, mereka menggunakan Air Bleng ini,” tambah Yunita.
Tak Pernah Kering Meski Kemarau Panjang
Keistimewaan Sapta Tirta terletak pada sifatnya yang menyerupai sumur hidup.
Airnya tidak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda. Setiap sumber memiliki rasa, suhu, hingga khasiat yang berbeda-beda.
Fenomena ini juga menarik perhatian dunia akademik. Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) rutin meneliti kandungan air setiap enam bulan sekali.
Sementara itu, Universitas Indonesia (UI) melakukan pengujian setahun sekali.
“Kalau di sini setiap enam bulan sekali diteliti dari UGM, setahun sekali itu dari UI. Itu pasti tiap tahun ke sini. Kandungannya tidak berubah. Kalau pun berubah, dari pihak UGM maupun UI akan memberikan hasil lab-nya,” tandas Yunita.
Keberadaan Air Bleng menjadi bukti nyata bahwa warisan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga harus dijaga agar tetap lestari sebagai bagian penting dari budaya Jawa. (mg4/dam)
Editor : Damianus Bram