SOLOBALAPAN.COM – Pernah membayangkan berjalan di antara jejak kehidupan jutaan tahun lalu? Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan di Sragen bisa menjadi jawabannya.
Bukan sekadar menyimpan benda purba, museum ini menghadirkan pengalaman wisata edukasi yang menghubungkan dunia modern dengan kisah manusia goa.
Situs Sangiran sendiri telah diakui UNESCO sejak 1996 sebagai Warisan Budaya Dunia, menjadikannya salah satu pusat penelitian manusia purba terpenting di dunia.
Dari sini, pengunjung bisa memahami bagaimana manusia purba bertahan hidup, berpindah tempat, hingga meninggalkan jejak fosil yang masih bisa kita saksikan hari ini.
Di Klaster Krikilan, wisatawan diajak menjelajahi tiga ruang pamer utama yang menyuguhkan dialog antara fosil, konteks geologi, hingga narasi evolusi manusia.
Ruang Pamer Kekayaan Sangiran
Ruang ini menampilkan koleksi fosil fauna dan artefak budaya utama yang ditemukan di Sangiran.
Penyajian dilakukan berdasarkan proses suksesi ekologi, mulai dari laut, rawa, hingga sabana.
Pengunjung dapat melihat fosil moluska, gigi hiu, kura-kura, buaya (Crocodylus dan Gavialus), hingga mamalia besar seperti babi purba, rusa, harimau, dan badak.
Primadona ruangan ini adalah mini diorama tiga jenis gajah purba: Mastodon, Stegodon, dan Elephas.
“Tingginya mungkin sekitar tiga meter, kalau ini gadingnya gading Stegodon,” ujar Reza, Humas Museum Sangiran, saat mendampingi SoloBalapan.com berkeliling ruang pamer, Rabu (27/8/2025).
Banyak koleksi berasal dari temuan masyarakat yang kemudian diserahkan kepada pihak museum.
Namun untuk fosil manusia purba, hanya tersedia replika karena benda aslinya sangat langka dan rapuh, sehingga disimpan dengan pengamanan ekstra.
Koleksi ini juga menekankan klasifikasi manusia purba yang ditemukan di Sangiran.
Jika dulu dikenal sebagai Pithecanthropus atau Meganthropus, kini semuanya dimasukkan dalam Homo Erectus dengan tiga fase: arkaik, tipik, dan progresif.
Ruang Pamer Langkah-Langkah Kemanusiaan
Ruang kedua bertajuk Steps of Humanity ini ibarat kapsul waktu yang menuturkan perjalanan panjang semesta.
Dimulai dari peristiwa Big Bang, terbentuknya benua, hingga munculnya manusia modern.
Koleksi di ruangan ini bukan hanya dari Sangiran, melainkan juga dari situs prasejarah Indonesia lainnya.
Ada alat batu dari Pacitan, sisa manusia purba Wajakensis dari Tulungagung, hingga Homo Floresiensis alias manusia kerdil dari Flores.
Untuk memperkaya pengalaman, museum juga menampilkan animasi singkat tentang masa Jurassic, diorama satwa purba, hingga fosil besar seperti rahang gajah purba dan fragmen gading yang bisa disentuh langsung oleh pengunjung.
Ruang Pamer Masa Keemasan Homo Erectus
Ruang terakhir menampilkan deretan replika tengkorak Homo Erectus dari Sangiran, yang jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen temuan dunia.
Yang paling terkenal adalah tengkorak S17, ditemukan di Dayu pada 1969 oleh Tukimin dan Towikromo. Uniknya, bagian belakang tengkorak ini berlubang karena terkena linggis saat penggalian.
“Dan belakang ini kaya ada bekas luka, itu dulu karna kena linggis, Tukimin sama Towikromo itu gak sengaja pas linggis tanah,” ujar Reza.
Selain itu, pengunjung juga bisa melihat patung rekonstruksi Homo Erectus karya maestro seni rupa Edi Sunarso, yang juga dikenal sebagai pembuat Patung Selamat Datang di Jakarta. Sentuhan artistik ini membuat Homo Erectus terasa lebih hidup.
Museum juga memperkenalkan Homo Floresiensis dari Flores sebagai bukti keberagaman evolusi hominid di Nusantara.
Keberadaan Museum Sangiran Klaster Krikilan menegaskan posisi Sangiran sebagai pusat penelitian global yang telah menyumbang lebih dari separuh temuan Homo Erectus dunia.
Bagi pengunjung awam, museum ini menawarkan perjalanan edukatif mengenai kehidupan jutaan tahun lalu.
Sedangkan bagi peneliti, Sangiran tetap menjadi tambang data yang menyimpan misteri asal usul manusia.
Museum ini menjadi ruang refleksi bahwa manusia modern hanyalah satu bab kecil dari kisah panjang kehidupan di bumi.
Dan di Sangiran, bab itu bisa dibaca jelas melalui fosil, replika, diorama, dan narasi yang tak lekang waktu. (mg4/dam)
Editor : Damianus Bram