Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Rahasia Kelezatan Tahu Kupat Tawangsari: Ketupat Premium, Kecap Spesial, hingga Tahu Berkualitas

Angga Purenda • Jumat, 4 April 2025 | 01:10 WIB
Tahu Kupat Tawangsari.
Tahu Kupat Tawangsari.

SOLOBALAPAN.COM - Kelezatan tahu kupat khas Tawangsari tidak muncul begitu saja.

Di balik cita rasanya yang khas, ada rahasia yang dijaga turun-temurun oleh Wagiman, seorang penjual tahu kupat berusia 66 tahun.

Ia mengungkapkan bahwa kelezatan hidangannya terletak pada pemilihan bahan berkualitas, proses memasak yang tidak instan, serta penggunaan kecap khas yang memberikan sentuhan otentik.

Ketupat: Elemen Utama yang Diolah Sendiri

Bagi Wagiman, ketupat bukan hanya pelengkap, tetapi bagian terpenting dalam tahu kupat. Oleh karena itu, ia memilih untuk membuatnya sendiri dengan beras berkualitas tinggi.

“Ketupat saya bikin sendiri, pakai beras yang bagus, mahal,” ungkapnya.

Berbeda dengan kebanyakan pedagang yang membeli ketupat dari pemasok di Jajar, Solo, Wagiman lebih memilih untuk mengolah sendiri agar kualitasnya tetap terjaga.

Proses memasaknya dimulai sejak sore hari, sekitar pukul 15.00, dan berlangsung hingga tengah malam.

“Sekitar pukul 24.00 baru matang, lalu didiamkan semalaman agar teksturnya pas dan siap disajikan keesokan paginya,” jelasnya. Ia bahkan menghabiskan satu tabung gas hanya untuk memasak ketupat ini.

Kecap Khas yang Sulit Digantikan

Selain ketupat, kecap yang digunakan juga menjadi faktor penentu rasa. Wagiman memilih kecap produksi UMKM dari Sangkrah, Solo, yang dibuat oleh pengusaha keturunan Tionghoa.

Ia telah mencoba berbagai merek kecap terkenal, tetapi menurutnya tidak ada yang bisa menggantikan rasa khas dari kecap pilihannya.

“Pernah coba merk lain, ada yang pahit, ada yang sangit. Kecap ini beda. Murah, tapi segarnya pas. Buat makan soto atau bakso sih nggak enak, tapi kalau untuk tahu kupat, ini yang paling cocok,” tuturnya.

Namun, kecap ini memiliki tantangan tersendiri. Usaha produksi kecap tersebut tidak memiliki penerus yang jelas, sehingga dikhawatirkan akan berhenti suatu saat nanti.

“Kalau nanti pengusahanya sudah nggak ada, kita bisa repot. Ada sih pekerja-pekerjanya, tapi rasanya pasti beda kalau bukan yang bikin sendiri,” kata Didik, anak Wagiman yang juga meneruskan usaha tahu kupat.

Tahu Berkualitas dari Klaten

Komponen lain yang tak kalah penting adalah tahu. Didik lebih memilih tahu dari Klaten dibanding daerah lain karena menurutnya memiliki cita rasa lebih gurih.

“Tahu dari Klaten lebih enak, ada gurih-gurihnya. Kalau dari daerah lain, ada yang rasanya kecut,” ujarnya.

Kombinasi ketupat yang dimasak semalaman, kecap khas yang unik, serta tahu berkualitas dari Klaten inilah yang menjadikan tahu kupat khas Tawangsari tetap memiliki penggemar setia. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan ketersediaan kecap andalan mereka.

“Kalau kecap ini benar-benar berhenti produksi, kita harus cari solusi. Karena kecap yang pas untuk tahu kupat ini tidak mudah dicari,” ujar Didik.

Sebagai tambahan, kecap ini ketika diolah dengan berbagai bumbu dapat bertahan hingga empat hari, sehingga tetap memberikan rasa yang konsisten pada setiap hidangan tahu kupat yang disajikan. (ren/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#ketupat #tahu kupat #tawangsari