SOLOBALAPAN.COM – Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten dikenal sebagai salah satu desa tertua di Indonesia.
Julukan ini nggak lepas dari penemuan dua prasasti penting, yaitu Prasasti Upit I dan II.
Keduanya ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan bertanggal tahun 866 Masehi, dikeluarkan oleh Rakai Halaran.
Menurut Hari Wahyudi, pegiat cagar budaya asal Klaten yang juga besar di Desa Kahuman, mata air yang dikenal dengan nama Sumber Pengilon atau Sedang Pengilon kemungkinan besar sudah ada sejak zaman dulu banget.
“Tapi diperkirakan Sumber Pengilon itu ada hubungannya dengan Prasasti Upit. Jadi diperkirakan sudah ada sejak Mataram Kuno atau masa Hindu-Buddha. Indikasinya, sumber itu sebagai tempat pentirtaan atau tempat suci sebelum memasuki Parsada Upit,” ujar Hari kepada radarsolo.com (Solo Balapan Group) beberapa waktu lalu.
Hari juga menjelaskan bahwa eksistensi Sumber Pengilon makin kuat karena sudah ada di peta topografi buatan Belanda tahun 1930.
Walau nggak ada narasi tertulis dari Belanda tentang sumber itu, keberadaannya jelas tergambar di peta sebagai saluran air.
“Waktu saya masih kecil sering mandi di sana. Dahulunya juga sering digunakan untuk mencuci pakaian dan pengairan. Maka itu, oleh Belanda dibuatkan saluran yang saat itu untuk mengairi lahan perkebunan milik kolonial Belanda. Dikarenakan dulunya banyak tanaman pala dan kapuk sebagai tanaman industri,” jelas Hari.
Dulu, katanya, Sumber Pengilon ini punya tiga titik sumber air: sumber lanang, sumber wedok, dan satu lagi.
Nama “Sumber Pengilon” sendiri juga punya cerita menarik yang diturunkan dari keluarga Hari.
Ia bilang, dulu air di sana bening banget—jernih kayak kaca.
Saking jernihnya, katanya, para bidadari dari kahyangan sering turun dan bercermin di sana.
Dari situlah nama "Pengilon" yang artinya bercermin berasal.
“Dahulu airnya memang begitu bening, tetapi kalau sekarang keruh sekali. Waktu airnya bening itu memang seperti kaca, sangat jernih sekali. Dulunya memang ada pohon jenis ficus yang cukup besar, tapi setelah beberapa tahun lalu tumbang menjadikan debit air sumber berkurang dan menjadi keruh,” tutur Hari.
Nggak cuma cerita rakyat, kawasan sekitar Sumber Pengilon juga pernah jadi lokasi ditemukannya arca logam yang diyakini bagian dari kompleks persada Upit, yang kemungkinan adalah situs candi bercorak Hindu.
Hari berharap banget pemerintah desa bisa ikut melestarikan sumber mata air yang sudah berusia ratusan tahun ini.
Menurutnya, penting untuk tidak hanya mengeksploitasi tapi juga mikirin kelestariannya jangka panjang.
“Kalau saran saya ya dihijaukan terlebih dahulu di sekitar Sumber Pengilon itu biar debit airnya stabil dan bertahan lama. Jika pepohonnya ditebang dan digantikan dengan bangunan permanen akan merusak ekosistem. Jadi perlu dihijaukan, karena sumber air itu merupakan sumber penghidupan,” pungkas Hari. (ren/lz)
Editor : Laila Zakiya