SOLOBALAPAN.COM - Pemerintah Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) tengah mengebut rehabilitasi kolam renang tengah di kawasan wisata Batu Seribu, Kecamatan Bulu.
Targetnya, fasilitas ini sudah bisa digunakan saat libur Idulfitri 2025.
“Perencanaannya ditarget selesai akhir bulan ini, agar pengerjaan bisa langsung dimulai. Harapannya, kolam sudah siap pakai untuk libur Lebaran,” ujar Setyo Aji Nugroho, Kepala Disporapar Sukoharjo.
Batu Seribu dikenal memiliki tiga kolam renang alami yang bersumber dari mata air Umbul Pacinan, dengan tingkat keasaman (pH) 6,6. Airnya dipercaya memiliki manfaat kesehatan, mulai dari meringankan nyeri sendi, menyegarkan rambut, hingga mengurangi peradangan kulit.
“Dengan manfaat airnya, Batu Seribu tak hanya cocok untuk liburan, tetapi juga bisa jadi alternatif wisata terapi kesehatan alami,” imbuh Aji.
Selain kolam, kawasan ini juga memiliki berbagai fasilitas seperti taman bermain anak, area camping, gardu pandang, joglo pertemuan, dan spot foto menarik.
Harga tiketnya pun terjangkau: Rp5.000 untuk tiket masuk dan tambahan Rp5.000 untuk taman bermain atau kolam.
Rehabilitasi ini diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan selama musim libur panjang. Namun di balik pembangunan fisik, muncul wacana penting tentang arah pengembangan wisata Batu Seribu ke depan.
Obyek wisata Batu Seribu, yang berada di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, kini jadi perhatian dalam hal arah pengembangannya.
Chris Broto, konsultan pariwisata asal Sukoharjo, mengungkapkan pentingnya memilih konsep yang tepat: antara menjadikannya wahana wisata massal atau mengarahkannya ke ekowisata yang berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan secara besar-besaran bisa berdampak negatif terhadap ekosistem, seperti yang terjadi di beberapa daerah wisata lain.
“Contoh kasus di Bogor yang berdampak hingga banjir di Bekasi menjadi pelajaran bahwa pembangunan wisata yang tidak terkendali bisa berakibat fatal,” kata Broto.
Sebaliknya, ekowisata menawarkan pendekatan lebih edukatif dan berkelanjutan.
Namun, daya tariknya bagi investor dinilai masih rendah karena pengunjung yang datang hanya sekadar menikmati alam dan tidak memicu aktivitas ekonomi besar.
“Ekowisata bagus untuk lingkungan dan edukasi, tapi secara bisnis belum cukup menggoda investor. Orang datang, foto-foto, lalu pulang,” jelasnya.
Saat ini pemerintah masih fokus pada penguatan infrastruktur fisik. Tapi Broto menegaskan, pengembangan wisata tidak cukup hanya dari bangunan.
Keterlibatan masyarakat lokal, desa, BUMDes, hingga komunitas harus aktif dalam membangun ekosistem wisata yang hidup.
“Tanpa peran warga, Batu Seribu hanya akan jadi proyek jangka pendek tanpa dampak ekonomi jangka panjang,” tegasnya.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mengintegrasikan Batu Seribu dengan destinasi lain di sekitarnya, seperti Gunung Sepikul, Platar Ombo, dan Sendang Lele, dalam satu paket wisata terkonsep.
“Dengan konsep terpadu, kawasan ini akan jauh lebih menarik bagi wisatawan dan investor. Pemerintah harus kreatif mengemasnya,” ujar Broto.
Ia juga mendorong pengembangan wisata berbasis budaya lokal, festival, hingga pengalaman unik seperti camping keluarga dan trekking.
Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara eksplorasi wisata dan konservasi lingkungan.
Dengan pendekatan yang tepat, Batu Seribu bisa menjadi destinasi wisata unggulan yang menarik, sehat, ramah lingkungan, sekaligus menguntungkan secara ekonomi untuk masyarakat sekitar. (kwl)
Editor : Nindia Aprilia