SOLOBALAPAN.COM - Di sekitar Pasar Tawangsari, aroma khas tahu goreng yang berpadu dengan bumbu kecap kerap menggoda siapa saja yang melintas.
Di balik kelezatan hidangan ini, ada Wagiman, seorang penjual tahu kupat yang telah mengabdikan hidupnya pada kuliner legendaris ini sejak puluhan tahun lalu.
"Saya mulai ikut jualan tahun 1979, ikut Pak Sastro, pakdhe saya, yang dulu mangkal di Pasar Singosaren, Solo," kenang pria berusia 66 tahun ini.
Pada masa itu, Wagiman belum mendapatkan upah. Namun, ia tekun mempelajari seluk-beluk usaha dari sang pakdhe.
Baginya, kebersihan, keramahan, kesopanan, dan mempertahankan cita rasa adalah kunci utama agar pelanggan terus kembali.
Tahun 1986 menjadi awal langkahnya berdikari. Ia memutuskan berjualan sendiri dengan cara berkeliling menggunakan pikulan, sebelum akhirnya beralih ke gerobak dorong.
Tahu kupat buatannya dijajakan di berbagai kawasan seperti Danukusuman dan Gading, Solo. Kala itu, harga seporsi tahu kupat hanya Rp 50.
Seiring waktu dan inflasi, pada 1994 harga per porsi naik menjadi Rp 3.000, hingga kini dibanderol Rp 10.000.
Tahun 1994 juga menjadi titik penting bagi Wagiman. Ia memilih menetap di sekitar Pasar Tawangsari alih-alih berkeliling.
Keputusan tersebut terbukti tepat, karena hingga kini usahanya tetap eksis dan bahkan berkembang dengan membuka dua cabang di lokasi yang sama.
"Saya belajar dari pengalaman Pakdhe. Yang penting bersih, ramah, sopan, dan mempertahankan rasa. Itu yang membuat pelanggan selalu kembali," ujarnya.
Lebih dari sekadar makanan, bagi Wagiman tahu kupat adalah bagian dari sejarah dan warisan yang harus dilestarikan.
"Setahu saya, tahu kupat pertama kali dijual di Solo oleh Pak Cipto di Pasar Kembang dan Pak Sastro di Singosaren sekitar tahun 1945," ungkapnya.
Seiring waktu, kuliner ini semakin dikenal dan digemari masyarakat luas. Tak hanya dirinya dan sang pakdhe, ayah Wagiman juga dulu berjualan tahu kupat di kawasan Turisari, Solo. Kini, tradisi tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, yaitu anaknya sendiri.
"Saya berharap anak saya bisa terus menjaga rasa dan tradisi ini, supaya tahu kupat tetap lestari dan dicintai banyak orang," harapnya.
Perjalanan panjang Wagiman dari sekadar membantu dagang hingga memiliki cabang sendiri membuktikan bahwa kesetiaan terhadap cita rasa serta pelayanan yang baik adalah kunci dalam mempertahankan bisnis kuliner tradisional.
Lebih dari sekadar santapan, tahu kupat adalah simbol dari perjuangan, dedikasi, dan nilai-nilai keluarga yang diwariskan lintas generasi.
Dengan semangat yang terus dijaga, hidangan ini diharapkan tetap menjadi favorit masyarakat Solo dan sekitarnya di masa mendatang. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo