Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Asal Muasal Soto, Makanan Tradisional Kaya Rempah yang Ternyata Hasil Akulturasi Budaya di Abad ke-12

Ragil Listiyo • Senin, 31 Maret 2025 | 14:53 WIB
Semangkuk Soto Boyolali.
Semangkuk Soto Boyolali.

BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM - Sudah tahu belum? Kuliner kaya rempah soto ternyata hidangan hasil akulturasi dari China loh!

Hingga saat ini, soto menjadi menu andalan bahkan tersebar di beberapa daerah di Nusantara.

Bermula dari pangan lokal, soto menjadi hidangan yang punya banyak penggemar hingga akhirnya dijual di berbagai kota.

Bahkan soto cocok dinikmati kapanpun, mulai dari pagi, siang maupun malam, baik dalam cuaca cerah maupun hujan.

Pakar Pangan Universitas Sebelas Maret (UNS) Bara Yudhistira mengatakan bahwa soto merupakan pangan tradisional yang dapat dijumpai hampir di seluruh Indonesia.

Bahkan jenis pangan berkuah ini cukup populer dibanding makanan serupa lainnya. Tiap daerah dikenal memiliki soto dengan citarasa sendiri.

Perbedaan citarasa di berbagai daerah itulah yang kemudian membedakan soto dengan panganan lokal lainnya.

“Sebenarnya ini adalah makanan akulturasi atau adaptasi dari makanan Tionghoa. Cuma sudah dimodifikasi sehingga menjadi pangan Indonesia yang memiliki karakter berbeda-beda,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo (Solo Balapan Group), Kamis (27/2).

Berdasarkan literatur, soto berasal dari kata cau du (chau du) yang merupakan Bahasa Tionghoa.

Kata sao du atau sio to berasal dari Bahasa Hok Kien yang kemudian menjadi asal-muasal sebutan soto.

Kata cao berati rumput, shan berarti memasak dan da berarti perut, jeroan sapi atau babat.

Baca Juga: Lirik Lagu Tresna Caplok Macan – Jegeg Bulan yang Lagi Viral! Kerap Dipakai di Tren Joget Velocity, Yuk Hafalin!

Hidangan soto sendiri juga menunjukkan hubungan Indonesia dan Tiongkok.

Bara menjelaskann bahwa soto masuk ke Indonesia dari China daratan, ada juga menyebut dari Kanton pada abad 12 dan terus berlanjut seiring dengan perkembangan zaman pada masa itu.

Semua bagian hewan dapat digunakan untuk semangkuk soto.

Jika China menggunakan daging babi untuk makanan, di Indonesia akan disesuaikan dengan adat istiadat lokal, seperti mengganti dengan daging lokal.

“Lalu pada masa penjajahan Belanda itu terjadi surplus sapi, itulah mulai soto menggunakan sapi. Meski di Kudus masih bertahan dengan kerbau karena menghormati orang Hindu. Pada awalnya soto ini dijajakan keliling dipikul seperti itu. Lalu semakin modern mulai menetap seperti warung,” terangnya.

Hadirnya soto juga merupakan perwujudan makanan dan rempah-rempah budaya Tionghoa yang mampu mempengaruhi selera Masyarakat.

Meski memiliki karakteristik berbeda di tiap daerah, tentu ada ciri khas yang membedakannya.

Pertama, adalah isiannya. Ada yang daging sapi, ayam, atau kerbau seperti di Kudus, dan juga daging kuda untuk daerah Sulawesi.

Kedua, berdasarkan kuahnya ada yang bening dan keruh, soto dibedakan tergantung bumbu yang digunakan.

“Soto ini pangan tradisional yang masih bertahan karena pembuatan soto ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Di sisi lain soto ini cocok di semua kondisi. Dapat kita lihat dimakan pagi, siang, malam itu menyebabkan soto ini mudah diterima oleh semua kalangan. Itu yang membedakan dengan makanan lain yang mungkin cocok di waktu tertentu,” jelasnya.

Selain itu, soto selalu dihidangkan dalam kondisi panas. Sehingga makanan ini cenderung bisa bertahan lebih lama.

Selain itu tinjauan gizi pada soto relatif lebih lengkap.

Isianya sudah mengandung karbohidrat dari nasi atau lontong, lalu kandungan protein berasal dari daging, mineral dan vitamin yang berasal dari toping seperti kecambah juga sayur.

“Yang paling penting adalah aspek higienitasnya, karena ini disajikan dalam kondisi panas tentu pencemaran mikrobiologi dan bakteri bisa lebih ditekan,” ungkapnya.

Di sisi lain, konsumsi soto ini sebenarnya aman untuk jangka panjang. Karena secara umum tidak ada dampak negatif jika mengonsumsi soto setiap hari.

Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah konsumsi soto harus berimbang.

“Terutama terkait kalori atau bahkan lemak dari isiannya, baik dari daging isian maupun kudapan tambahan seperti gorengan, jeroan dan lainnya,” tandasnya.(rgl/lz)

 

Editor : Laila Zakiya
#soto #kuliner