SOLOBALAPAN.COM - Terletak di Kampung Tegal Sepur, Kelurahan Klaten Tengah, Soto Umbul Bening menjadi salah satu kuliner legendaris yang patut dicoba saat berkunjung ke Klaten.
Warung soto sederhana ini telah ada sejak 1953 dan tetap mempertahankan cita rasanya yang khas hingga saat ini.
Berbeda dari soto pada umumnya, Soto Umbul Bening disajikan tanpa irisan daging ayam atau sapi, juga tanpa kecambah, kubis, atau koya.
Soto ini hanya terdiri dari nasi, mie soun, seledri, potongan wortel, dan bawang goreng, dengan kuah bening yang kaya akan rasa kaldu ayam. Kesederhanaan inilah yang menjadi daya tariknya.
“Kalau dulu memang awalnya nenek saya, Simpen Bening, yang berjualan. Nama Soto Umbul Bening juga berasal dari pelanggan karena diambil dari nama nenek saya dan tampilan kuahnya yang bening,” ungkap Yeti Novianti (43), generasi kedua penerus usaha ini, Jumat (17/1).
Yeti telah meneruskan warung soto ini selama 20 tahun. Ia mulai mempersiapkan sajian sejak pukul 04.30 setiap hari dan melayani hingga 100 porsi.
Soto ini tetap menjadi favorit pelanggan yang datang dari Klaten, Yogyakarta, dan sekitarnya. Bahkan, beberapa pelanggan dari generasi neneknya sejak 1960-an masih setia berkunjung.
Harga Terjangkau untuk Semua Kalangan
Soto Umbul Bening awalnya dibanderol hanya Rp 5 per porsi karena pelanggannya sebagian besar adalah anak sekolah dengan uang saku terbatas.
Kini, harga seporsi soto tanpa daging hanya Rp 4.500. Jika pelanggan menginginkan suwiran ayam, harganya menjadi Rp 6.000 per porsi.
Warung yang buka setiap hari pukul 07.15 hingga 14.00 ini juga menyediakan aneka lauk pendamping seperti gorengan, telur, kerupuk, dan karak dengan harga mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 9.000.
Minuman yang ditawarkan juga bervariasi, seperti teh, jeruk, susu, dan minuman lain yang ramah anak.
Melestarikan Cita Rasa Otentik
Yeti berkomitmen untuk terus melestarikan warisan kuliner ini. Ia berharap generasi berikutnya, termasuk anak-anaknya, dapat meneruskan usaha Soto Umbul Bening agar tetap menjadi ikon kuliner legendaris Klaten.
“Saya ingin soto sederhana ini tetap eksis dan bisa dinikmati pelanggan kami dari generasi ke generasi,” tutup Yeti.
Dengan cita rasa gurih dan harga terjangkau, Soto Umbul Bening menjadi bukti bahwa kesederhanaan dapat bertahan lama di tengah persaingan kuliner modern. (ren)
Editor : Nindia Aprilia