SOLOBALAPAN.COM – Di pedesaan Sragen, tepatnya di Dukuh Bulakrejo, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, kuliner tradisional ekstrem ini tengah menjadi buruan saat musim penghujan tiba.
Namanya entung jati, olahan dari larva ulat pohon jati yang kaya protein dan menawarkan sensasi rasa pedas gurih tak terlupakan.
Saat musim hujan, warga setempat berbondong-bondong mencari entung jati di hutan sekitar.
Wantini, 50, seorang warga Bulakrejo, mengungkapkan bahwa berburu entung jati adalah tradisi turun-temurun di desa ini.
“Biasanya untuk lauk keluarga, tapi kalau ada yang mau beli, kami jual per gelas Rp 15 ribu,” ungkapnya.
Entung jati dapat diolah menjadi berbagai masakan, mulai dari digoreng hingga rica-rica. Untuk memasak rica entung jati, bahan-bahan yang diperlukan sederhana: cabai, bawang merah, bawang putih, daun jeruk, garam, merica, dan kecap manis.
Prosesnya juga mudah: entung direbus hingga bersih, lalu ditumis dengan bumbu pedas hingga matang.
Hidangan ini cocok disantap bersama nasi hangat, memberikan pengalaman makan yang unik.
“Rasanya gurih, pedas, dan kaya protein. Ada sensasi kletus-kletus saat digigit,” ujar Mulato, salah satu penikmat setia entung jati.
Namun, Mulato mengingatkan bahwa kuliner ini tidak untuk semua orang. Bagi yang tidak terbiasa, konsumsi entung jati bisa memicu alergi.
"Bagi pemula, pastikan tubuh dalam kondisi baik sebelum mencicipinya. Selain entung jati, ada juga entung johar yang tak kalah enak," tambahnya.
Dengan kandungan protein tinggi dan cita rasa khas, entung jati bukan hanya kuliner, tetapi juga bagian dari tradisi dan kearifan lokal warga Sragen. Berani mencoba? (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto