SOLOBALAPAN.COM -Para petani di kawasan lereng Gunung Merapi di wilayah Kemalang mulai giat menanam kopi, terutama di Desa Sidorejo yang kini dikenal dengan produk andalannya, Kopi Petruk.
Produk ini telah berhasil menembus pasar hingga ke berbagai daerah dan toko modern berjejaring.
Dalam beberapa tahun terakhir, petani di Desa Sidorejo mulai intensif menanam kopi.
Mereka belajar dari awal tentang proses menanam, memetik, hingga mengolah hasil panen. Produk kopi dari desa ini dikenal dengan nama Kopi Petruk.
Sekretaris Desa Sidorejo, Ahmad Sulistyo, menjelaskan kepada radarsolo.com pada Festival Kopi Klaten, bahwa jumlah petani kopi di Desa Sidorejo sekitar 1.000 orang, yang terbagi dalam beberapa kelompok.
“Setiap RT di desa kami memiliki kelompok petani kopi, terutama di area potensial seluas sekitar 300 hektar. Ada enam kelompok petani kopi di desa kami,” ujar Ahmad.
Pengelolaan kopi di Sidorejo dilakukan di dua lokasi utama: Kopi Petruk yang dikelola oleh Komunitas Radio Lintas Merapi, sebuah wadah relawan kebencanaan, dan Kopi Deles.
Semua hasil panen dari petani kopi di desa tersebut dikelola oleh dua entitas ini.
Kopi Petruk tidak hanya memasok kedai kopi di Klaten tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia.
Kini, produknya dengan mudah ditemukan di toko modern berjejaring.
“Kopi Petruk menjadi langganan tetap beberapa kedai kopi di Klaten yang rutin mengambil pasokan dari desa kami setiap bulan. Mayoritas kopi yang ditanam adalah jenis arabika karena wilayah kami berada di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl, meskipun ada sedikit robusta,” tambah Ahmad.
Setelah pandemi Covid-19, semakin banyak petani di daerah ini yang fokus menanam kopi.
Awalnya, kopi hanya ditanam di tepian lahan bersama tanaman sayur, namun kini mereka lebih fokus menanam kopi karena permintaan yang terus meningkat.
“Menanam dan merawat kopi lebih mudah dibandingkan sayur. Jadi, memang ada peningkatan, meskipun varietasnya semakin minim karena aroma kopi arabika sangat dipengaruhi tanaman di sekitarnya,” jelas Ahmad.
Ahmad menambahkan bahwa potensi kopi arabika di Desa Sidorejo seluas 300 hektar. Petani tertarik menanam kopi karena harga jual yang menggiurkan.
Panen kopi merah dihargai Rp 10.000-12.000 per kg. Kopi diolah mulai dari panen hingga produksi, dijual dalam bentuk biji hijau, biji sangrai, dan bubuk yang siap diseduh.
“Bubuk kopi yang siap diseduh dijual dengan harga bervariasi tergantung kemasannya. Misalnya, kemasan 100 gram kopi arabika dijual seharga Rp 25 ribu,” jelas Ahmad.
Dukungan dari Pemkab Klaten telah membantu produk Kopi Petruk masuk ke toko modern berjejaring, meningkatkan promosi kopi dari lereng Merapi sehingga lebih dikenal masyarakat luas.
“Saat ini, Kopi Petruk dipasarkan di Jogja, Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta. Bahkan pernah dibawa ke Jepang sebagai oleh-oleh saat pelatihan ke Radio Lintas Merapi,” tutup Ahmad. (ren)
Editor : Nindia Aprilia