SOLOBALAPAN.COM - Klaten dikenal dengan berbagai spot wisatanya yang cukup unik dan selalu ada yang terbaru juga populer.
Bahkan, bukan hanya sebagai spot wisata namun beberapa diantaranya juga memiliki kisah mistis.
Kisah-kisah itulah yang pada akhirnya melekat di masyarakat sebagai salah satu cerita legenda populer.
Salah satunya sebuah sendang di Dusun Slegrengan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten ternyata menyimpan cerita mitos yang berkembang sampai saat ini.
Meski kondisinya saat ini tidak terawat tetapi pernah menjadi lokasi ritual bagi pelaku seni reog hingga jathilan di laksanakan setiap malam Jumat.
Mereka rela datang dari luar kota untuk menuju sendang yang berukuran 7 meter x 5 meter tersebut.
Mulai dari membawa sesaji, meminum air hingga berendam dari sore hingga tengah malam pada sendang tersebut.
Hal itu dilakukan agar keterampilannya dalam berkesenian semakin terasah hingga moncer sehingga banyaknya permintaan untuk tampil datang kepada mereka.
“Sendang lanang ini dahulunya digunakan untuk padusan bagi pelaku kesenian. Misalnya reog, jathilan, ketoprak, campursari di era tahun 2000. Tetapi sejak 2006 ke sini sudah mulai sepi,” ujar Kepala Dusun (Kadus) III Desa Kalitengah Udiyono saat ditemui di kantor desa, Jumat (7/6).
Lebih lanjut, Udiyono menjelaskan, bahwa sebelumnya ada juri kunci yang menjaga Sendang Lanang tersebut.
Sempat ada tiga juri kunci yang secara estafet menjaga sendang. Tetapi kini sudah tidak ada penurusannya.
“Cerita dari sesepuh dahulu, dulu yang menunggu berasal dari Gunung Merapi. Kalau padusan, kata dari juri kunci bahwa yang disitu (sendang), yang menunggu ada Kiai Suto Manggolo dengan asistennya Gus Darman dan Gus Daryo,” ujar Udiyono.
Ia menceritakan, saat dirinya masih kecil, ketika ada kelompok kesenian yang menggelar padusan di sendang menarik perhatian warga sekitar.
Mengingat setelah selesai menjalankan padusan yang bagian dari ritual selesai terdapat tradisi membagi uang kepada anak-anak.
Udiyono mengungkapkan, bahwa sendang yang ada di Desa Kalitengah itu sejak dulu tidak dimanfaatkan untuk pengairan lahan persawahan.
Terlebih lagi kondisinya saat ini yang semakin dangkal dengan kedalaman sekira 60 cm dengan air tampak keruh. Dari sebelumnya pernah sampai kedalaman 1,5 meter.
“Kepercayaan di situ (sendang), bagi yang sudah padusan (mandi) menjadi moncer namanya. Begitu juga tanggapannya (permintaan untuk tampil) semakin laris. Tidak digunakan untuk pengairan sama sekali karena debit airnya kecil,” ujar Udiyono.
Udiyono mengungkapkan, kelompok kesenian yang datang ke sendang untuk melakukan ritual dari Jogja, Solo dan Semarang.
Mulai daatang dengan berjalan kaki sampai menyewa bus agar bisa sampai ke lokasi sendang.
Mengingat menjadi kepercayaan bagi pelaku seni bahwa belum mantap jika belum menjalankan tradisi padusan ke Sendang Lanang.
Seusai melakukan ritual, biasanya kelompok kesenian tersebut tampil di sekitar sendang sehingga menjadi hiburan tersendiri bagi warga setempat.
Pelaku kesenian pun menyakini setelah melakukan serangkaian ritual itu menjadikan banyak permintaan untuk tampil di berbagai daerah.
“Sebenarnya ada dua sendang. Selain Sendang Lanang juga ada Sendang Wedok. Lokasinya berjarak sekira 300 meter dari Sendang Lanang, juga untuk ritual yang sama khususnya bagi Perempuan. Jadi saat menjalankan ritual yang laki-laki di Sendang Lanang dan Perempuan di Sendang Wedok,” jelas.
Untuk Sendang Lanang berada di tanah kas desa setempat sehingga masih dilihat sampai saat ini.
Sedangkan untuk Sendang Wedok berada di lahan tanah milik pribadi yang kini dimanfaatkan sebagai tempat produksi gula jawa.
Tetapi sendangnya pun tertutup seng sehingga tidak bisa terlihat secara langsung. (ren/nda)