SOLOBALAPAN.COM - Karanganyar dikenal dengan berbagai wisatanya yang cantik dan memiliki pemandangan alam nan indah.
Bahkan daerah ini sangat pintar dalam mengkombinasikan wisata dengan keindahan alam yang ada di sana.
Pesona alam itulah yang pada akhirnya membuat wisata di Karanganyar ramai dibanjiri pengunjung yang berasal dari berbagai daerah.
Salah satunya yang ada di Desa Pojok, Mojogedang. Di sana juga menyimpan potensi alam yang patut untuk kita kunjungi.
Ya lokasi wisata yang ada di pinggiran kota Karanganyar tersebut tidak lain adalah umbul Gunung Tugel, yang berada di Desa Pojok, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar.
Dari Kabupaten Karanganyar sendiri, jika kita menggunakan kendaraan sepeda motor hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja.
Namun jika menggunakan mobil, bisa saja membutuhkan waktu sekitar 20 – 25 menit.
Pasalnya, lokasi umbul Gunung Tugel yang sebelumnya dikenal warga hanya sebuah lahan kosong papringan karena berada disamping salah satu aliran kali pojok tersebut.
Lokasinya sedikit agak masuk dari jalan utama Karanganyar – Mojogedang.
Ada dua jalur yang untuk bisa datang menikmati lokasi umbul Gunung Tugel, baik melalui wilayah kecamatan Tasikmadu, maupun melalui Karanganyar Kota, atau Bejen.
Namun menurut pantauan, untuk bisa menikmati pemandangan desa dengan sentuhan religi yang ada di umbul Tugel, masyarakat diharapkan untuk bisa melewati jalur kota.
Hal tersebut lantaran kondisi jalan sudah baik, dan hanya beberapa meter untuk menuju ke lokasi jalan di sekitar lokasi mengalami kerusakan.
Pengelola sekaligus pengembang wisata Umbul Gunung Tugel, Sutarno, saat berbincang dengan solobalapan.com, mengaku mulanya pihak wisata tidak berniat untuk membuat lokasi umbul tugel untuk dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata.
Namun, karena di dekat lokasi tersebut terdapat salah satu makam yang dirasa sering didatangi sejumlah orang.
Kemudian dengan adanya Umbul yang juga berada tak jauh dari makam, menjadikan Sutarno sedikit demi sedikit mengembangkan lokasi tersebut hingga saat ini berubah bentuknya.
Lokasi wisata ini berawal dari lahan papringan kemudian diubah menjadi lahan wisata yang patut dikunjungi oleh masyarakat.
“Awalnya hutan mas, tanaman pohon – pohon besar dan papringan saja, kemudian ada beberapa warga yang melihat ada aktifitas, katanya di atas (puncak gunung tugel-red) itu ada salah satu makam yang sering didatangi" ucap Sutarno.
"kemudian saya pikir mendingan saya ubah lokasi di lereng bukit atau gunung ini dibangun kawasan wisata, setidaknya, agar kawasan ini bersih dan tidak terkesan angker atau kumuh mas,” lanjutnya.
Selang berjalannya waktu, setelah ada niatan tersebut, Sutarno akhirnya berkomunikasi dengan pihak pemerintah desa untuk bisa mengelola lahan tersebut. Meskipun sebelumnya lahan tersebut milik perorangan.
“Saat saya koordinasi dengan pemerintah desa, dari desa itu kemudian membersihkan akses yang menuju ke makam yang ada di puncak gunung tugel itu mas, nah mulai dari situlah kemudian saya mikir, lokasi ini cocok kalau dikembangkan menjadi wisata, karena dibawah ada salah satu umbul yang airnya itu tidak pernah habis, dan murni,” paparnya.
Setiap hari, sejak akhir tahun 2021 lalu, lebih jauh Sutarno mengungkapkan, pihaknya mencoba mengurus untuk status tanahnya.
Kemudian tanah tersebut dapat dikelola hingga berbagai kreasi wisata ia kembangkan tanpa merusak bentuk awal dari lokasi makam dan umbul Gunung Tugel.
“Akses masuk ke makam alhamdulillah dari pemerintah desa dibangun gapura, kemudian untuk dibawahnya yang ada umbulnya, saya bangun kolam renang air tawar murni tanpa obat atau Kaporit, kemudian ini saya mencoba bangun bangunan joglo untuk resto dan beberapa fasilitas wisata lainnya,” pungkasnya.
Untuk bisa menikmati umbul gunung tugel, masyarakat yang akan menikmati keindahan alam dan pedesaan dan suasana religius di kawasan tersebut.
Pihak dari pengelola hanya memberlakukan untuk membayar sebesar Rp 5.000. Dan sudah bisa menikmati sejuknya air umbul yang saat ini dikembangkan dibuat beberapa kolam berenang baik untuk anak – anak maupun dewasa. (Rud/nda)
Editor : Nindia Aprilia