SOLOBALAPAN.COM - Klaten memang dikenal dengan pariwisatanya yang unik dan menarik, selain memiliki umbul ternyata Kota ini juga memiliki berbagai pusat belanja tradisional.
Salah satunya adalah pasar tradisional yang terletak di Dusun Gentongan, Desa Gemblegan, Kalikotes, Klaten.
Pasar tersebut bernama Pasar Gentongan yang setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat yang hendak berbelanja.
Berbagai bahan pokok seperti sayuran, daging, buah, perabotan, hingga pakaian juga dijual di pasar unik ini.
Namun, terlepas dari itu pasar ini juga dikenal dengan julukannya yang cukup unik yaitu pasar tuyul.
Dari pantauan yang dilakukan solobalapan.com tidak ada kesan serem dari pasar tradisional yang memiliki luas 60 meter x 50 meter tersebut.
Lokasinya berada di tepi jalan raya yang cukup ramai. Terlebih lagi berdekatan dengan permukiman padat penduduk.
Terlihat pedagang yang menggelar dagangannya di kios hingga los yang terbilang cukup lengkap.
Salah satu pedagang Pasar Gentongan saat ditemui solobalapan.com, Mbah Lakon, 74, mengungkapkan bahwa dirinya sudah berjualan sejak 1964 di pasar tersebut dengan produk berupa ketela pohon. Sebelum akhirnya saat ini berjualan buah pisang.
“Dulu saat jualan saya masih berusia 15 tahun. Apalagi pasarnya belum seperti saat ini. Dulu penanda batas pasar hanya menggunakan bambu,” ujar Mbah Lakon yang menjadi saksi hidup perkembangan Pasar Gentongan dari tahun ke tahun ini, Jumat (24/5).
Soal julukan pasar tuyul, Mbah Lakon telah mengetahui hal itu sejak lama. Bahkan saat menyimpan uang dengan cara tradisional yakni menyelipkan pada kain jarik yang dilekatkan pada tubuhnya juga pernah mengalami kehilangan. Saat itu uang yang hilang nominalnya sekira Rp 10.000.
“Kalau soal kenapa Pasar Gentongan bisa dijuluki pasar tuyul saya tidak tahu cerita pastinya. Tetapi memang sudah sejak dulu (dijuluki pasar tuyul),” ujar Mbah Lakon.
Berdasarkan cerita yang dihimpun solobalapan.com di Pasar Gentongan, pihak yang kehilangan uang secara tiba-tiba dialami baik pedagang maupun pembeli.
Nominal uang yang lenyap beragam hingga yang paling besar Rp 100.000. Keluhan hilangnya uang itu hingga didengar oleh Petugas Pasar Gentongan.
“Memang kami mendengar cerita bahwa ada pembeli yang kehilangan uang Rp 100.000 saat hendak berbelanja. Padahal uangnya berada digenggam tangannya. Tapi sayangnya kami tidak melihat sendiri kejadian,” ujar Petugas Pasar Gentongan, Diah.
Keluhan juga diterima Diah dari pedagang yang kehilangan uang secara tiba-tiba saat bertransaksi di Pasar Gentongan.
Diakuinya kejadian hilangnya uang dari sejumlah pedagang dan pembeli selalu dikaitkan dengan julukan pasar tuyul.
Upaya petugas Pasar Gentongan untuk menghilangkan image sebagai pasar tuyul terus dilakukan.
Salah satunya dengan melakukan sosialisasi dengan mengelilingi pasar yang terdapat 200 pedagang tersebut. Mengimbau untuk selalu berhati-hati saat melakukan transaksi.
“Ini untuk menyakinkan para pembeli berbelanja di Pasar Gentongan. Soalnya memang sangat mempengaruhi (jumlah pembeli yang datang ke pasar). Apalagi (pasar tuyul) itu kan masih mitos dan masih simpang siur ceritanya,” ujar Diah.
Dari informasi yang dihimpun, cerita hilangnya uang milik pedagang dan pembeli masih saja terjadi sampai saat ini.
Meski tidak setiap harinya. Tetapi cerita uang milik pembeli yang jatuh tetapi saat dicari hilang masih saja mengiringi perkembangan dari Pasar Gentongan. (ren/nda)
Editor : Nindia Aprilia