Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dua Keripik Ini Jadi Oleh-oleh Khas Klaten yang Paling Diincar saat Lebaran 2024

Angga Purenda • Selasa, 16 April 2024 | 00:22 WIB
Proses produksi keripik paru dan belut di Gang Latar Putih, Kampung Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Senin (15/4). (ANGGA PURENDA/ RADAR SOLO)
Proses produksi keripik paru dan belut di Gang Latar Putih, Kampung Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Senin (15/4). (ANGGA PURENDA/ RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Para perantau siap balik ke tanah perantauan dengan libur Lebaran 2024 yang usai pada hari ini, Senin (15/4).

Saat hendak balik ke tanah perantauan para pemudik pastinya hendak membawa oleh-oleh khas kampung halaman, tak terkecuali bagi mereka yang berasal dari Solo Raya.

Bagi mereka yang mudik ke Klaten, ada berbagai oleh-oleh yang bisa jadi pilihan.

Salah satu produk yang bisa jadi oleh-oleh ini adalah keripik paru hingga keripik belut.

Di daerah Klaten, ada Kampung Tegal Kepatihan yang dikenal sebagai sentra oleh-oleh, dengan keripik paru sebagai produk utamanya.

Setidaknya, ada enam pelaku usaha yang berjualan keripik paru di kampung tersebut yang jadi tujuan utama pembeli berburu camilan bercita rasa gurih itu.

Salah satu pembeli keripik paru yakni Sutanto (50) asal Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kebetulan, dirinya sedang melakukan silaturahmi ke keluarga besarnya di Klaten.

Momen tersebut juga dimanfaatkan untuk mampir dan memborong oleh-oleh di Kampung Tegal Kepatihan tersebut.

“Ini sudah menjadi langganan saya setiap kali mampir ke Klaten. Kali ini beli buat oleh-oleh untuk sanak saudara sebelum balik ke perantauan masing-masing,” ujar Sutanto seperti dikutip dari Radar Solo pada Senin (15/4).

Lebih lanjut, Sutanto mengungkapkan, hal yang membuatnya menyukai keripik paru karena rasanya yang gurih.

Terlebih lagi cocok sebagai oleh-oleh sekaligus disantap untuk camilan di rumah.

Maka itu, dirinya rela menempuh perjalanan dari Sleman ke Klaten demi membeli keripik paru yang khas tersebut.

“Selain beli keripik paru juga beli keripik belut yang rasanya enak. Saya beli ini agar keluarga juga tahu oleh-oleh khas Klaten ini. Kebetulan saya bekerja di Solo dan sering melintasi Klaten,” ujar Sutanto.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha keripik paru di Kampung Tegal Kepatihan, Hendro Dwi Kurniawan (37) mengungkapkan bahwa dalam satu bulan pada hari biasa bisa memproduksi 100 kg.

Tetapi, ketika momen Lebaran bisa naik tujuh kali lipat karena tingginya permintaan.

“Untuk momen Lebaran untuk pembeli rata-rata didominasi dari luar kota. Terutama dari Jakarta yang membeli untuk oleh-oleh. Tetapi Jakarta memang menjadi salah satu kota pemasaran kami, selain ke Jogjakarta,” jelas Hendro.

Lebih lanjut, Hendro mengungkapkan, bahwa penjualan tidak hanya melayani pembeli yang datang ke rumah produksinya.

Tetapi juga melayani pembelian secara online dengan tujuan ke sejumlah kota.

Ada pun harga keripik paru sendiri dibandrol dengan harga Rp190 ribu per kg.

Meski ada kenaikan harga pada bahan seperti tepung saat Lebaran tetapi dirinya tidak menaikan harga jualnya.

“Untuk bahan baku kami menggunakan paru sapi dari lokal maupun impor seperti Australia. Jadi kami beli organ parunya saja. Untuk cita rasanya gurih dan cocok sebagai camilan menemani minum kopi,” jelas Hendro.

Selain memproduksi keripik paru, juga keripik belut. Ada pun bahan utama belut didatangkan langsung dari Jawa Timur seperti Malang.

Ada pun harga keripik belut sendiri dibandrol Rp180 ribu per kg.

“Sebenarnya juga membuat keripik tempe dan rambak cakar juga. Tetapi untuk libur Lebaran ini permintaan tertinggi di keripik paru dan keripik belut. Jadi kami kejar produksi untuk kedua jenis keripik itu,” jelas Hendro. (ren/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#klaten #lebaran #oleh-oleh #keripik #solo