Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Brem di Nguntoronadi Jadi Salah Satu Camilan Khas di Wonogiri, Ternyata Resepnya dari Nenek Moyang!

Iwan Adi Luhung • Rabu, 10 April 2024 | 00:00 WIB
BANJIR PESANAN: Pengemasan brem menggunakan kardus, pesanan konsumen dari luar Kabupaten Wonogiri.
BANJIR PESANAN: Pengemasan brem menggunakan kardus, pesanan konsumen dari luar Kabupaten Wonogiri.

SOLOBALAPAN.COM - Tidak ada yang tahu secara pasti, rekam jejak asal usul pembuatan brem Nguntoronadi.

Sepengetahuan warga di sentra industri rumahan brem di Dusun Tenggar Lor, Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri.

Camilan khas ini merupakan warisan turun-temurun dan hingga kini brem masih eksis di pasaran.

Kepala Desa (Kades) Gebang Kadiman menjelaskan, brem sudah ada sejak dia masih kecil. Menurutnya, resep pembuatan brem diwariskan dari nenek moyang.

“Tidak ada yang tahu ide membuat brem dulunya. Siapa yang memulai juga tidak ada yang tahu,” kata Kadiman kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kadiman mengaku kakek dan neneknya dulu juga perajin brem. Pernah suatu ketika, ibunya bercerita jika brem sudah ada sejak zaman penjajahan.

“Proses pembuatannya kan hampir sama dengan brem dari daerah lain. Tapi sekarang sudah banyak yang pakai alat. Sehingga lebih modern dan tidak manual lagi,” imbuhnya.

Menjamurnya perajin brem, khususnya di Dusun Tenggar Lor, Kadiman berharap ada pemihakan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri.

Misalnya melalui bantuan pemodalan bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Brem kan sudah menjadi camilan khas, bahkan ikon di Nguntoronadi. Kalau ada bantuan modal kan UMKM bisa lebih terangkat dan naik kelas,” bebernya.

Perajin brem asal Dusun Tenggar Lor Singgih Haryanto juga tidak mengetahui secara pasti, sejak kapan brem ada di wilayahnya.

“Saya ini hanya meneruskan usaha turun-temurun. Dulu kakek dan nenek saya sudah membuat brem. Lalu diturunkan ke ibu saya, juga membuat brem,” ujarnya.

Saat ditanya, Singgih tak pelit membeberkan cara pembuatann brem. Bahan utamanya adalah beras ketan dan ragi tape.

“Tape ketan diambil sarinya, kemudian diolah menjadi brem. Jadi ada yang bilang, brem itu kuahnya tape ketan,” ujar Singgih.

Pertama-tama, perajin membuat tape ketan terlebih dahulu. Beras ketan direndam air beberapa saat, lalu dikukus. Setelah itu dicuci, lalu dikukus lagi hingga matang.

 Setelah matang, beras ketan didinginkan terlebih dahulu. Baru kemudian ditaburi ragi tape dan disimpan selama 5-6 hari. “Itu baru jadi tape ketannya,” beber Singgih.

Proses selanjutnya adalah pengambilan sari tape ketan. Dulu, para perajin masih memanfaatkan alat khusus bernama spinner.

Kini, mereka mulai beralih menggunakan mesin cuci. Dengan catatan, mesin cuci ini hanya dipakai bagian pengeringnya saja. Fungsinya untuk memisahkan air dan ampas tape ketan.

“Ampas tape ketannya bisa dimakan ataupun diolah menjadi camilan lainnya. Ampasnya juga laku dijual untuk campuran pakan ternak. Dulu saya pakai sendiri saat masih punya ternak,” lanjut Singgih.

Air dari tape ketan itu lalu direbus hingga mengental. Kemudian diangkat dan di-mixer hingga berbuih atau berbusa. Buih itu dicetak dan dikeringkan dengan dijemur.

“Nanti cetakan yang dijemur itu dilihat seperti apa kondisinya. Dipilih yang bagus untuk dijemur lagi. Jadi prosesnya dari awal sampai jadi brem itu sekira 8 hari,” urainya. (al/fer)

Editor : Nindia Aprilia
#khas #turun temurun #wonogiri #Brem #camilan