SOLOBALAPAN.COM - Petani dan juga Peternak menyambut dengan baik terkait wacana program makan siang gratis, lantaran ini merupakan salah satu peluang yang besar bagi mereka.
Karena digadang-gadang bisa meningkatkan nilai jual susu sapi di kalangan petani dan peternak.
Tak hanya itu, pengolahan susu sapi yang nantinya dibagikan berpotensi melibatkan pelaku usaha menengah kecil dan mikro (UMKM).
Optimisme itu ditangkap peternak sapi perah sekaligus pelaku UMKM susu sapi asal Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Setiyono.
Dia memiliki puluhan sapi perah yang produktif. Menurutnya, program tersebut akan memberikan dampak pada petani dan peternak. Seperti yang ada di lingkungannya.
”Salah satu contoh sekarang susu 1 liter dibeli oleh koperasi atau dari pedagang itu Rp 6.500 sampai Rp 7.000 per liter. Artinya dengan adanya program pemerintah pusat ini dengan susu gratis ini, pasti dapatnya kan pada menaikan harga jual susu. Kenapa begitu? Artinya nanti susu ini kan bisa di kelola oleh UMKM atau warga masyarakat di sekitar peternak,” ungkapnya.
Menurutnya, selama ini susu yang dibeli koperasi maupun pedagang masih dikenakan ongkos transportasinya.
Sedangkan jika program susu gratis ini jalan, bisa jadi dikelola UMKM sekitar. Sehingga tidak perlu ongkos tambahan untuk transportasi. Harga susu pun bisa dimaksimalkan hingga Rp 7.500 sampai Rp 8.000 per liter.
”Saat ini kan dikelola oleh UMKM sendiri, maka bisa meningkatkan perekonomian petani dan peternak. Selain meningkatkan nilai jual susu dari peternakan itu, dampaknya kan tidak ada transportasi kan, bisa memangkas yang selama ini ada biaya oprasional untuk transportasi karena ini langsung diambil oleh UMKM kan tanpa transportasi. Otomatis akan meningkatkan nilai jual,” katanya.
Lalu dengan dikelola UMKM sendiri, maka akan memajukan perekonomian masyarakat. Dia sendiri telah mencobanya, dengan menjad pilot project bagi susu gratis.
Satu liter susu sapi ditambah sedikit air dengan perbandingan 70:30 persen. Takaran itu dikemas dan menghasilkan 4 botol ukuran 250 mililiter.
”Itu saya jual di pasaran umum satu contoh saya jual di CFD kota Solo atau di CFD Boyolali itu satu botol nya saya jual Rp 8 ribu per botol. Artinya dengan saya bisa menjual segitu, ternyata nilai jualnya meningkat. Makanya saya berani beli Rp 7.500 ribu per liternya sari petani,” katanya.
Saat ini, sudah ada 50-an petani dan peternak yang menyetorkan susu sapi ke rumahnya. Menilik kebutuhan perharinya mencapai 500 liter susu murni.
Sehingga dia optimistis, program itu bisa mensejahterakan petani dan peternak. (rgl/adi)
Editor : Nindia Aprilia