SOLOBALAPAN.COM – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali akan menggelar tradisi malam selikuran di tahun ini.
Seperti tahun kemarin, malam selikuran ini dilaksanakan sebagai upacara peringatan dalam menyambut malam Lailatulqadar atau yang kerap disebut sebagai malam seribu bulan.
Biasanya tradisi ini dilakukan pada malam hari setelah melaksanakan sholat tarawih.
Dilansir dari laman surakarta.go.id tradisi malam selikuran diawali dengan pembukaan gerbang keraton yang diikuti oleh keluarnya para kerabat serta abdi dalem.
Perjalanan iring-iringan kirab dari Keraton menuju Masjid Agung Surakarta dibarengi dengan mengarak tumpeng sewu (seribu tumpeng) dan lampion beserta abdi dalem prajurit musik di bagian paling depan.
“Katanya dilaksanakan tanggal 31 (Maret) setelah sholat tarawih mas. Inshaallah rute kirabnya sama seperti tahun kemarin, endingnya tetap di masjid Ageng,” jelas RM Bagus salah satu anak dari kerabat Keraton Surakarta, pada Kamis (28/03).
Tradisi malam selikuran (21 Ramadhan) adalah tradisi budaya sekaligus religius (agama) yang syarat akan makna.
Pada umunya masyarakat jawa memperingati malam selikuran dengan berbagai ragam tradisi, salah satunya dengan kirab yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta ini.
Merujuk pada sumber tertulis Serat Wulangreh dan Serat Ambya, Keraton Surakarta berkeyakinan di malam Lailatulqadar Allah SWT menurunkan anugrah setara seribu bulan kepada Rasulullah.
Kalangan keraton dan seluruh masyarakat adat Jawa mengharapkan limpahan berkah dan anugrah, seperti yang telah diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW saat malam Lailatulqadar.
Dalam Serat Ambya yang menjadi acuan tatanan keraton antara lain disebutkan, pada setiap tanggal ganjil mulai tanggal 21 Ramadhan, Nabi Muhammad saw. turun dari Jabal Nur.
Di Gunung Nur itulah, Rasulullah menerima wahyu ayat-ayat Alquran.
Sedangkan 21 Ramadhan menurut ajaran Islam dimaknai sebagai malam yang istimewa karena 21 Ramadhan adalah awal Rasulullah memulai beri’tikaf (berdiam diri).
Dengan begitu, tradisi malam selikuran ini juga merupakan sebuah ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di masjid, terutama saat bulan Ramadhan.
Dan lebih khusus dan istimewanya dilaksanakan pada malam 21 Ramadhan atau 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Seperti yang dikutip dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berasal dari Aisyah RA, Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Beliau bersabda, "Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadan". (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia