Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Berjualan di Area ISI Solo, Penjual Sate Ayam Madura Ini Sajikan Kisah Unik dan Filosofi Menarik Tentang Gerobak Kapalnya

Reinaldo Suryo Negoro • Kamis, 21 Maret 2024 | 17:24 WIB
Cak Ndut, salah satu penjual sate ayam Madura di ISI Solo yang punya kisah unik dan filosi menarik tentang gerobak kapal. (DOK. PRIBADI/ SISCA)
Cak Ndut, salah satu penjual sate ayam Madura di ISI Solo yang punya kisah unik dan filosi menarik tentang gerobak kapal. (DOK. PRIBADI/ SISCA)

SOLOBALAPAN.COM - Saat melintas di area kapalan atau gerbang masuk kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, perhatian kiranya akan tertuju pada gerobak-gerobak yang berbentuk kapal.

Gerobak bentuk kapal tersebut diketahui menjual kuliner sate ayam Madura yang kerap menjadi andalan mahasiswa ISI Solo untuk mengisi perut.

Tidak hanya satu gerobak kapal, biasanya dua atau tiga gerobak yang ada di sekitar kapalan Kampus ISI.

Namun, ada alasan tersendiri mengapa gerobak yang menjajakan sate ayam Madura ini berbentuk kapal.

Diungkapkan salah satu penjualnya yang bernama Cak Ndut, alasan di balik gerobak sate berbentuk kapal ini adalah karena para penjual sate yang berasal dadi Madura tepatnya rata-rata dari Kabupaten Sampang.

Mereka beranggapan bahwa kapal menyimbolkan sesuatu yang berlabuh.

Seperti halnya filosofi itu, para penjual sate dari Madura berlabuh ke Solo untuk berdagang.

Cak Ndut lantas mengungkapkan kapan dia mulai berlabuh untuk berjualan di Solo.

"Saya di sini sudah sejak tahun 2015 dan dari awal memang bareng-bareng membuat gerobak ini," terang Cak Ndut.

"Di Madura bersama teman-teman disana lalu dibawa kesini menggunakan pick up, ya makna ya berlabuh," jelasnya.

Selain makna gerobak sate kapal, Cak Ndut juga mengungkapkan kisah unik tentang gerobaknya.

Dijelaskan Cak Ndut, gerobak yang dia pakai untuk berjualan itu pernah tertabrak sebanyak tiga kali.

"Gerobak ini ya pernah ketabrak motor 1 kali ketabrak mobil 2 kali, tapi gerobaknya masih utuh, yang ketabrak mobil itu baru setengah bulan yang lalu," jelas Cak Ndut.

"Pas lagi dijalan tiba-tiba ditabrak, ini mejanya jadi bolong."

"Pas ketabrak motor, orangnya gelinding motornya jalan sendiri," terangnya dengan menggunakan logat khas Madura.

Cak Ndut juga mengungkapkan suka duka yang dialaminya saat berjualan.

"Sehari buat 500 tusuk rata-rata, ya bisa kurang bisa lebih, kalo lontong bisa 70 lah, tapi kalo sepi gini puasa, ya 50 lah," lanjutnya.

"Gaenaknya kerja gini, kerja seperti dikejar maling, harus cepat tapi ya gapapa semua harus dijalani" imbuhnya.

Meskipun mengungkapkan keluh kesahnya sebagai penjual, Cak Ndut juga memberi motivasi untuk melakukan kebaikan itu tidak perlu perhitungan hanya perlu menjalani saja. (mg3/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#filosofi #unik #sate ayam madura #solo #ISI #gerobak kapal