SOLOBALAPAN.COM - Guna meningkatkan pendapatan daerah (PAD), objek wisata alam dan pemandian batu seribu harus dipermak ulang.
Dengan begitu maka akan memancing banyak wisatawan untuk berkunjung dan menikmati keindahan objek wisata alam dan pemandian batu seribu.
Potensi alam yang masih alami dan mata air yang tak pernah kering perlu dikembangkan lagi sehingga bisa menggaet lebih banyak wisatawan.
Chris Broto, Konsultan Pariwisata saat diminta pendapat terkait kondisi obyek wisata permandian Batu Seribu di Desa Gentan, Kecamatan Bulu mengatakan bahwa obyek wisata Batu Seribu itu seru, karena geografis dan topografinya. Sangat cocok dikembangkan menjadi kawasan wisata terintegrasi.
"Disana ketersediaan oksigen, kultur masyarakatnya agraris dan perkebunan, menarik disinergikan. Diintegrasikan menjadi wisata petualangan, wisata olah raga, kawasan wisata kebugaran dan kesehatan," kata Chris Broto, Selasa (12/3).
Batu Seribu bisa menjadi pemantik, karena ada potensi air dan kesejukan alamnya. Maka, obyek wisata Batu Seribu segera dibenahi baik dari sisi keselamatannya maupun infrastrukturnya.
"Potensi air dan udara sejuk bisa menjadi aktivasi. Untuk menuju peningkatan kelasnya, mulai dari parkir dan fasilitas-fasilitas wisatanya perlu penguatan kembali," katanya.
Dikonfirmasi terkait pengembang obyek wisata Batu Seribu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Setyo Aji Nugroho mengatakan bahwa pihaknya pada 2024 ini ancang-ancang menyusun Detail Engineering Design (DED) rehabilitasi obyek wisata Batu Seribu.
Setidaknya ada 4 kolam renang saat ini yang dibangun sesuai topografi alamnya. Ada kolam yang berada di paling bawah dekat dengan sungai untuk pemancingan, dan 3 kolam lagi untuk renang.
"Kolam kedua dari atas yang akan kita rehab. Saat ini mulai kita ukur luasnya," kata Aji.
Menurut Aji, kolam kedua dari atas saat ini sempit, namun masih ada lahan untuk dilebarkan. Rencananya akan dilebarkan beberapa meter.
"Saat ini ukuran sekitar 4 meter x 10 meter. Nanti bisa dilebarkan menjadi sekitar 10 meter x 25 meter," kata Aji.
Aji mengakui, obyek wisata Batu Seribu terkesan kotor dan kumuh. Kotor karena tanaman terlalu rindang, sehingga banyak daun yang jatuh ke kolam. Kemudian, banyak pipa-pipa saluran air minum yang tidak rapi penempatannya.
"Dari mata air, ada banyak pipa air minum, ada PDAM, Pamsimas ada pipa untuk kebutuhan kolam renang dan lain sebagainya. Ini kedepan akan kita rapikan," bebernya.
Kedepan, kata Aji pihaknya juga berencana akan menguji laboratorium kualitas air. Kata dia, selama ini banyak pengunjung yang menggunakan kolam sebagai terapi kesehatan.
"Airnya dari mata air langsung, informasinya cocok untuk terapi. Banyak warga dari luar kota datang untuk terapi. Tapi, kan kita harus uji lab dulu, PH airnya berapa," pungkasnya. (kwl)
Editor : Nindia Aprilia