SOLOBALAPAN.COM - Di balik megahnya Dalem Joyokusuman, kediaman resmi Pangeran Adipati Pakubuwana X, terdapat sebuah sumur tua yang menyimpan banyak berkah.
Sumur Bandung, begitulah ia dikenal, konon sumur ini memiliki tujuh sumber mata air yang tidak pernah kering dan penuh berkah.
Rohadi, pengelola bagian umum Dalem Joyokusuman, menuturkan bahwa sumur ini merupakan salah satu peninggalan Pangeran Adipati Pakubuwana X.
Sumur ini terhubung dengan tujuh mata air dan ada beberapa sumur disini, namun saat ini hanya satu yang masih dibuka untuk umum.
"Banyak orang yang datang ke sini untuk mengambil airnya," ungkap Rohadi.
"Mereka percaya bahwa air Sumur Bandung memiliki berkah, terutama bagi mereka yang baru menikah, sepasaran, atau ingin mendapatkan keberuntungan." lanjutnya.
Air Sumur Bandung boleh diambil secara gratis oleh siapa saja. Pengunjung dapat langsung meminumnya atau memasaknya terlebih dahulu.
Konon, air ini memiliki khasiat untuk kesehatan dan kebugaran. "Dulu pernah ada upaya untuk membersihkan sumur ini," kata Rohadi.
"Namun, airnya tidak mau surut meskipun sudah disedot setengah bagian. Seolah-olah ada kekuatan yang menjaga sumur ini." lanjutnya.
Keunikan Sumur Bandung tidak berhenti di situ. Saat musim kemarau, ketika sumur-sumur lain mengering, Sumur Bandung tetap penuh air. Hal ini semakin menambah misteri dan daya tarik sumur ini.
Sumur ini juga tidak bisa dikuras, karena sumber airnya tidak bisa habis. Sudah setengah jalan mengurasasan sumur tapi airnya bukan makin surut malah makin naik.
"Dalam pemgurasan sumur juga ditemukan kejadian unik, selain sumur itu tidak mau dikuras, didalamnya juga ada sepasang patung persembahan yang duduk bersama di meja makan" Ujar Rohadi.
Sepasang patung persembahan laki-laki dan perempuan konon katanya merupakan replika dari raja dan ratu yang sedang makan bersama.
Bagi masyarakat sekitar, Sumur Bandung bukan sekadar sumur tua biasa. Sumur ini merupakan simbol tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Keberadaan sumur bandung ini menjadi pengingat sejarah dan spiritualitas yang patut dilestarikan. (Mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia