Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Es Kapal Khas Solo Jadi yang Paling Legendaris, Bahkan Unsianya Sudah Capai 50 Tahun!

Nindia Aprilia • Jumat, 23 Februari 2024 | 22:32 WIB
Es Kapal Legend Berusia 50 tahun lebih
Es Kapal Legend Berusia 50 tahun lebih

SOLOBALAPAN.COM - Kuliner legendaris es kapal khas Solo digemari oleh semua kalangan dari kaula muda sampai tua. Walaupun usianya sudah berpuluh-puluh tahun, tetapi tetap eksis hingga sekarang.

Es kapal ini sudah berdiri sejak tahun 1973, minuman ini terbukti legend dan masih banyak peminatnya.

Gerobak yang menyerupai kapal dan dipadukan dengan es sehingga diberi nama es kapal.

Es kapal ini banyak dijumpai di sepanjang jalan Bhayangkara, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.

Hanya dengan merogoh kocek Rp 5.000 saja, sudah bisa menikmati kesegaran perpaduan antara santan, tape singkong, gula, garam, ditambah es batu dan roti.

Lalu sebagai pelengkap diberi rasa coklat, ada pula beberapa pedagang yang menambahkan variasi rasa strawberry, melon, dan mangga.

Seperti yang dilakukan oleh Hari atau sering di sapa dengan panggilan Pak Hanter pedangan kaki lima Es Kapal di Sriwedari.

“Aslinya rasa coklat berhubung anak muda sering nanya, Pak selain coklat apa, saya punya ide sendiri tak kasih sirup sirup ini, yang umum orang suka, seperti duren, mangga, strawberry,” jelasnya pada Kamis (22/02).

Hari berjualan dari pukul 11.00 sampai 19.00 WIB setiap harinya. Pedagang lain ada yang berjualan pukul 08.00 dan ada pula yang selesai berjualan sekitar waktu sebelum mahgrib.

Biasanya, pembeli akan membeli es ini saat sore atau di hari weekend yang dimanfaatkan pengunjung untuk jajan.

Baca Juga: Kudapan Tradisional Legendaris Khas Solo! Kue Moho Lawang Gapit Keraton Jadi Buruan Saat Imlek

Hari sebagai pedagang es kapal, pernah berjualan di Kecamatan Kartasura, ternyata kurang diminati oleh pembeli, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan di jalan Bhayangkara, Sriwedari.

Terbukti bahwa berjualan di jalan tersebut omset yang dihasilkan menjanjikan.

“Tempatnya di sini terus. Klo jualan ngga di sini ga laku, dulu di Kartasura ngga laku, larinya sini lakunya di sini,” ujarnya.

Pedagang-pedagang es kapal menyewa tempat kepada pemilik rumah yang berada disekitar jalan tersebut untuk berjualan.

Namun, berbeda dengan Hari, ia hanya meminta izin kepada pemilik rumah untuk berjualan di depan rumahnya tanpa membayar biaya sewa. Pemilik rumah kemudian mengizinkannya.

Maka dari itu ia hanya mengeluarkan modal Rp 150.000 setiap harinya tanpa dipotong bayaran sewa tempat.

Keuntungan bersih yang didapat hari setiap harinya mencapai Rp 300.000 pada hari biasa, sedangkan pada akhir pekan pendapatannya bisa mencapai Rp 450.000 perhari.

“Anak-anak muda walaupun setelah hujan tetap beli,” terangnya.

Salah satu pedagang es kapal yang berjualan dari tahun 1976 sampai sekarang pun masih ada, tepatnya di jalan Dr. Rajiman No.353, Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, tepatnya di dekat perempatan lampu merah Sriwedari. (mg4/nda)

DITANGKAP : Pelaku penganiayaan Rivanthio Adam Mau Awang. (istimewa)
DITANGKAP : Pelaku penganiayaan Rivanthio Adam Mau Awang. (istimewa)
Editor : Nindia Aprilia
#legendaris #kota solo #es kapal